Bhe Kun; Terkabulnya Janji Para Pengawal Kuda Cheng Ho

bhe kun 1
Bhe Kun menarik kuda

Kedatangan Laksamana Cheng Ho ke Indonesia, terutama di Pulau Jawa, konon karena ia sangat terpikat lalu jatuh cinta berat pada Indonesia. Kecintaan laksamana yang juga disebut Yang Mulia Kongco Sam Poo Tay Djien itu lalu diabadikan di klenteng indah di Semarang, Sam Poo Kong.

Sejak kedatangannya pada tahun 1405, momen itu selalu dirayakan setiap tahun dalam Peringatan Kedatangan Yang Mulia Kongco Sam Poo Tay Djien. Tidak hanya masyarakat keturunan Tionghoa di Semarang. Para pengraya juga dari kalangan non Tionghoa dari berbagai daerah, antusias merayakannya.

Di balik nama Cheng Ho, ada satu karakter yang sebenarnya tak kalah penting dalam peringatan ini, namanya Bhe Kun. Bhe Kun tak lain adalah pengawal kuda Cheng Ho. Mereka inilah yang memelihara dan menjaga kuda-kuda Sang Laksamana.

Hingga kini, para Bhe Kun hanya bisa ditemukan saat peringatan. Meski hanya secara simbolik mewakili karakter pengawal kuda Cheng Ho, kehadirannya sangat ditunggu.

bhe kun-tay Kak Sie
Klenteng Tay Kak Sie

Seperti dalam Peringatan 611 Tahun Kedatangan YM Kongco Sam Poo Tay Djien 2016 di bulan Agustus ini, para Bhe Kun hadir lagi. Peringatan biasanya diawali dengan pembukaan di Klenteng Tay Kak Sie, di Gang Lombok, Semarang tepat pukul 19.00.

Setelah pertunjukan teater yang menceritakan sejarah Cheng Ho, acara berlanjut di ruang samping klenteng. Saat itulah para Bhe Kun mulai merias wajah. Mereka gagah dalam pakaian hitam-hitam.

Di antara Bhe Kun itu adalah Mak Ribut. Ia sudah 76 tahun, kini. Jika lebih dari 60 tahun ia menjadi Bhe Kun, berarti ia telah memulai menjadi Bhe Kun sejak usia antara 15-16 tahun. Ada satu alasan besar mengapa ia bertahan menjadi Bhe Kun.

Semua terjadi begitu saja setelah ia berdoa di Klenteng Tay Kak Sie. Para Bhe Kun di masa kini rata-rata memang para pembayar nazar. Mereka seolah menebus janji atas semua permohonan yang sudah dikabulkan oleh dewa-dewa..

bhe kun-6
Mak Ribut (kanan) bersama Bhe Kun lainnya

Ada dua doa besar Mak Ribut yang terkabul. Pertama, untuk kesembuhan atas kondisinya yang sakit-sakitan. Setelah menikah selama 20 tahun dan tak kunjung dikaruniai anak, doanya terkabul lagi setelah berdoa di klenteng.

Untuk dua doa terkabul inilah, Mak Ribut berjanji menjadi seorang Bhe Kun. Ia pasti ada di setiap peringatan kedatangan Cheng Ho. “Setiap tahun selama fisik saya mampu, saya akan menjalaninya,” katanya.

Lain halnya dengan Sablah yang 25 tahun menjadi Bhe Kun. Seperti Mak Ribut, ia juga mempunyai nazar atau janji menjadi Bhe Kun setelah kelahiran anak pertamanya, selamat. Anak pertamanya itu sering ia ikutkan serta dalam pawai berjalan menuju Klenteng Sam Poo Kong, sejak bayi.

Malah, anak Sablah kini mengikuti jejak ibunya menjadi Bhe Kun. Ia juga ada di peringatan ke-611 itu. Demikian pula cerita para Bhe Kun lainnya, semua menjadi Bhe Kun dengan alasan berbeda-beda. Mereka mempunyai janji menjadi Bhe Kun setelah semua permohonan mereka telah kabul setelah memohon pada dewa-dewa di Klenteng Tay Kak Sie.

Sebenarnya semua orang bisa menjadi seorang Bhe Kun dalam perayaan ini. Tetapi secara turun temurun, seperti ada syarat tidak tertulis bahwa seseorang bisa menjadi Bhe Kun hanya jika keinginan atau permintaan baik mereka terkabul oleh dewa-dewa Klenteng Tay Kak Sie.

bhe khun
Perias Bhe Kun

Permintaan itu macam-macam, bisa terkait kesehatan, keuangan, masa depan, keturunan, jodoh dan kesuksesan. Saat itulah, calon Bhe Kun berucap kepada para dewa bahwa jika permohonan tunai, mereka sanggup menjadi seorang Bhe Kun.

Tak ada ketentuan lamanya seseorang menjadi Bhe Kun. Semua tergantung janji para Bhe Kun. Tidak diketahui secara pasti kapan sebenarnya Bhe Kun yang berangkat dari para pembayar nazar ini, dimulai. Yang jelas tradisi ini masih lekat dan kuat sampai sekarang.

Selain para Bhe Kun, perias Bhe Kun pun tidak bisa dilakukan sembarang orang. Para perias harus tahu filosofi warna dan gambar yang harus mereka tuangkan ke wajah-wajah Bhe Kun. Sebelumnya, warna dan karakter riasan lebih beragam.

Pertimbangannya, ada banyak orang yang mau menjadi Bhe Kun sehingga dibutuhkan banyak karakter gambar wajah. Semua Bhe Kun pun dirias dalam aneka karakter panglima perang atau prajurit. Tetapi menurut pengurus klentang, Bhe Kun bukanlah panglima atau prajurit di medan perang. Ditambah pertimbangan sejarah, pengurus klenteng meminta para Bhe Kun kini dirias dengan karakter Punakawan.

bhe kun-and the horse
Para Bhe Kun dan kuda siap berpawai

Maka jadilah Bhe Kun tampil seperti wajah Bagong, Petruk, Semar dan dan Gareng seperti dalam cerita perwayangan. Mereka didandani dengan pakaian sederhana berwarna hitam. Hitam, merah dan putih juga mendominasi make up para Bhe Kun untuk menggambarkan karakter keras namun memunyai hati yang lembut.

Biasanya acara merias para Bhe Kun ini dimulai pukul 22.00 hingga pagi hari. Setelah acara rias selesai pada pukul 4.30 Subuh, para Bhe Kun berkumpul dan membawa seekor kuda ke dalam klenteng sebagai simbol kuda Cheng Ho yang dijaganya.

Dari sini, mereka berpawai, berjalan dari Klenteng Tay Kak Sie diikuti rombongan barongsai dan rombongan naga. Mereka melewati beberapa klenteng kecil di wilayah Pecinan Semarang (Semawis), lalu menuju Klenteng Sam Poo Kong untuk merayakan puncak peringatan. Ya, kami datang Cheng Ho, mengawal tangguhnya kuda-kudamu. (naskah dan foto: Monique Aditya/Heti Palestina Yunani)