Bertahan dari Babi Hutan dan Dingin

Road Trip Nekat Mengeksplorasi Selatan Indonesia (8)

8-Hutan MatiSaya tiba di Pos 3 Gunung Tambora pada siang hari. Perbekalan nasi kami buka dan memasak air untuk membuat kopi hangat. Demi efisiensi waktu, kami tidak membuat nasi untuk makan siang maka dalam ransel sudah siap nasi bungkus yang dibawa dari Desa Pancasila.

Selesai mengisi energi, perjalanan dilanjut kembali menyusuri jalur tropis Gunung Tambora. Jalur yang semakin menanjak menuju Pos 4 menjadikan kami cukup banyak berhenti untuk mengambil napas. Selain itu semakin banyak pula daun yang jika tersentuh seperti tersengat listrik atau lebah lalu menyebabkan gatal-gatal.

Efeknya bisa berhari-hari, dan jumlahnya di jalur ini semakin banyak hingga sampai di Pos 4. Ternyata di sana merupakan kebun luas Pohon Jelatang. Tidak lama mengambil napas, kami pun melanjutkan pendakian. Kami tiba di pos terakhir pada sore hari.

Beruntung sekali kondisi fisik sangat menunjang proses pendakian ini, sehingga cukup cepat untuk sampai di Pos 5. Kami mendirikan tenda dan memasak perbekalan yang telah dibawa.

8-Harapan Mentari Semakin lama kami pun semakin akrab dan bercerita. Meski umurnya lebih muda dari saya dan pendidikannya hanya hingga SMP tetapi semangatnya dalam menghidupi keluarga, besar.

Tak terasa sudah mulai gelap, dan alangkah indahnya pemandangan di sana dengan langit berselimut bintang dan pepohonan yang cukup jarang menutupi tempat kami mendirikan tenda. Puas dengan pemandangan dan cukup hangat berkat api unggun yang dibuat, maka kami pun beristirahat untuk mempersiapkan tubuh kembali mendaki saat dini hari menggapai puncak Gunung Tambora.

Pukul 03.00 kami sudah mengisi tubuh dengan sarapan ringan untuk tenaga menuju puncak gunung sekaligus mengemas seluruh bawaan, karena di Pos 5 pernah terjadi pencurian barang-barang sekaligus perobekan tenda.

8-Dibawah Bintang
Malam hari di bawah bintang

Pencurinya bukan manusia seperti di Gunung Sumbing, melainkan babi hutan yang mengambil barang-barang para pendaki. Selesai berkemas maka ransel kami pun digantung di atas pohon untuk mengamankan dari ‘maling’ dari dalam hutan.

Pendakian menuju puncak ternyata disambut dengan kabut yang begitu tebal dan angin yang kencang. Menurut informasi, kondisi Tambora yang berkabut sangat membahayakan bagi pendaki yang ingin melihat matahari terbit karena ketebalan yang bisa menutup jarak pandang hanya sekitar 4-5 meter.

Sampai di sebuah punggungan pada pukul 05.00 kami memutuskan untuk menunggu kabut turun atau hilang terbawa angin. Lama kami menunggu, kedinginan melanda kami selama hampir 1,5 jam, saya dipaksa menyerah oleh kondisi dan ingin segera turun gunung.

Saya pikir lebih baik lain waktu mengunjungi kembali dalam kondisi cuaca yang cerah daripada mengambil risiko nyawa hilang akibat celaka. Kami pun turun kembali munuju Pos 5. (naskah dan foto: Geraldine Fakhmi Akbar/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)