Bersama Selayaknya Keluarga di Lebaran Imlek

imlek 2Hari ini Imlek. Kemeriahan memuncak. Namun sudah sejak satu hingga dua minggu menjelang, mereka yang merayakan sudah mulai bersembahyang dan berkumpul bersama keluarga. Pagi ini, Pasar Gang Baru di kawasan Pecinan di Semarang ramai bukan main.

imlek 1Dapur-dapur mengepul terus mengeluarkan asap aroma bumbu dan daging yang akan disajikan untuk jamuan Imlek. Hari ini saya ikut di antara kemeriahan itu. Mencoba ikut mencicipi hidangan Imlek yang khas di Perkumpulan Sosial Boen Hian Tong atau Rasa Dharma -sebuah perkumpulan Tionghoa tertua di Semarang-.

Di dalam kompleks Pecinan Semarang itu, perkumpulan yang dibentuk sejak 1876 itu biasanya memang banyak kedatangan tamu tepat di Hari Imlek. Anggota perkumpulan datang menyambut. Saya pun -yang Jawa dan muslim- boleh datang ke gedung tua di Jalan Gang Pinggir, Nomor 31-31A, Semarang. imlek 3

Di sana, sebagian orang tampak mempersiapkan uba rampe sembahyang. Karena saya tidak menjalankan ibadah sembahyangan semacam itu, maka saya standby membantu mempersiapkan tempat sebelum tamu-tamu itu datang.

Siang menjelang, satu per satu pengurus yang beragam mulai anak-anak hingga terua, datang melakukan sembahyang di altar yang sudah disiapkan rapi. Tampak sinci (papan nama tanda abu) Gus Dur yang disimpan perkumpulan itu, turut mendapat doa. Sampai tidak ada lagi yang berdoa membakar hio, sajian di meja altar dipindahkan ke meja panjang. Tatanannya indah dominan merah.

imlek 5Kali ini tidak ada samchan atau hidangan babi semacamnya. Kami makan bersama, selayaknya keluarga. Saling curhat, tanya ini itu, saling bergosip, tertawa tentang hal ringan, saling menawarkan makanan. Ini juga Lebaran lho. Sebagaimana Lebaran lain, apakah Islam, Kristen, Budha, Hindu, yang pernah saya datangi, suasananya sama; meriah. Semua merasa seperti keluarga yang berkumpul.

imlek 6Makanan amat berlimpah. Sampai-sampai saat pulang, setiap yang ikut makan di Hari Imlek masih bisa membawa pulang. Karena itu selesai makan, semua boleh membawa bungkusan yang tak sempat dimakan habis di tempat. Intinya, jangan menyisakan makanan.

Jangan menjadikan hal baik sia-sia. Makin habis makanan yang disajikan makin berkahlah, demikian kepercayaan yang ada. Lebaran semoga selalu damai. Mari menjadi keluarga, mari membagi cinta bukannya amarah. Damai di hati, damai di bumi. Gong xi fat cai! (teks dan foto: Asrida Ulinnuha/edior: Heti Palestina Yunani)