Berpesta ‘Sepi’ di Melestarikan Musik Bambu

festival-bambu-4-borbadom Mendengar musik bambu mungkin secara umum terkesan biasa, karena musik bambu telah hadir di beberapa daerah Indonesia sejak lama. Namun, kali ini musik bambu yang dikembangkan masyarakat Ngadha punya kesan menarik dan unik. Sebab, dari 159 jenis bambu di Indonesia, 6 jenisnya yaitu (bambu betung, bambu pering, bambu belang, bambu suling, bambu gurung, dan bambu to’e) digunakan oleh masyarakat Flores.

Tidak hanya untuk musik, tapi dalam kehidupan sehari-hari. Tentu, tidak semua penduduk Flores memanfaatkan bambu di kehidupan sehariannya, tapi ada kampung yang masih menggunakan bambu dari memasak, menyuling minuman khas dari pohon Enau, Moke, atap dan dinding rumah, musik, bela diri dan sebagainya. Sebelumnya musik bambu ini sempat berjaya di tahun 1990-an, bahkan Nikolaus Nono, seorang pelatih dan narasumber seni dan budaya Ngadha berusia 72 tahun, beserta kawan-kawannya pernah menginjakkan kaki di Eropa gara-gara bambu ini.

festival-bambu-5 Masyarakat Ngadha, Flores, sering pula diundang di berbagai acara seperti di Bali, Sumba, dan Kupang. Setelah itu musik bambu meredup. Mereka hanya bermain sekadarnya saja. Kecuali diundang dalam acara perkawinan, di balai desa, kabupaten, dan lainnya. Memasuki tahun 2015, mereka tersentil menghidupkan kembali musik bambu yang pernah memberikan pengalaman inernasional itu.

Walau diakui mereka, kebangkitkan musik bambu saat ini dikarenakan kemunculan dari Yayasan Kelola yang bergerak di bidang seni dan budaya. Mereka sadar, pemusik dan alat musik bambu merupakan potensi pariwisata sekaligus untuk membangun desa sehingga harus terus ada dan dilestarikan. Maka, terbentuklah sebuah ide untuk mengadakan Festival Musik Bambu dengan tema Satu Tekad Membangun Desa, di Aula Gereja Paroki, Seminari Mataloko, Balewa, Ngadha.

Dua desa dengan dua spesifikasi musik pun berkolaborasi. Desa Ratugesa bersama kolintang dan bass bambunya, Desa Malanuza dengan musik serulingnya. Musik bambu yang dimainkan terdiri; Seruling, Kolintang, Bombardom (berfungsi sebagai Bass), dan Gendang. Berbaur menjadi satu, memeragakan ritme alam selaras detak perbukitan nan sejuk, bentang laut biru, dan udara dingin yang terpapar kecantikan langit semesta negeri Flores.

festival-bambu-1 Ditambah lagi ciri khas orang sana yang mencintai musik. Menurut mereka, dengan musik, bisa memotivasi mereka untuk berkumpul. Berkumpul untuk bicarakan berbagai hal. Berdiskusi mengenai pembangunan desa, syukuran panen, festival, dan lain-lain. Dengan musik mereka bisa menghibur diri dan orang lain. Ini yang terpenting. Bersuka cita! Malah, jika tidak dibayar pun mereka mau, asalkan diberi makan.

Begitu menurut peserta Festival Musik Bambu yang kebanyakan orangtua, dan segelintir anak muda. Pola pikir mereka pun berbeda. Budaya juga turut berperan redupnya musik bambu ini yaitu budaya pasrah terhadap kekayaan alamnya. Satu tarian perang, Labarudu, dibawakan oleh anak-anak sekolah dasar. 15 lagu bersyair pembangunan, keluarga berencana, rohani, cinta, musim panen, musim syukuran panen –tahun baru adat (Rebah). Juga, lirik yang mengajak orang untuk mengajak orang bekerja dan semangat menjalankan organisasi.

festival-bambu-6Penyanyi dan pemusik semua berprofesi petani dan berkebun. Uniknya pemain kolintang bambu dan bombardom, berasal dari kampung Wogo, dan seluruh rumah di sana merupakan rumah adat asli. Dinding-dindingnya terbuat dari bambu (Naja). Atap rumah (Lengah) dari alang-alang. Begitu pula lantai rumah. Selain itu, untuk memanggil hewan peternakan babi, mereka memukul bambu agar babi datang dan memakan makanan di atas bambu yang dipukul.

Mereka memasak di atas bambu dan makanan khas yang cukup popular, nasi bambu dan rebung. Minuman khas, Moke, penyulingannya melalui bambu. Melihat penampilan mereka sangat harmonis, bahkan ketika malam hari, mereka masih bersemangat bermain dan bergoyang. Latihan kolaborasi 2 desa pun hanya dilakukan selama 2 hari. Paling berkesan saat menyaksikan kakek-kakek meniup bambu bulat besar dan panjang sekitar 1 meter atau disebut Bombardom.

Mereka meniupkan alat tersebut sampai pipi terlihat kempot. Segala nafas dikerahkan. Bergoyang mengikuti irama musik, itu wajib hukumnya. Sungguh mengesankan! Tidak ketinggalan para perempuan pemain seruling  yang rata-rata nenek-nenek, begitu asyik meniupkan seruling secara santai dan damai. Asyiknya lagi, melihat beberapa dari mereka, di akhir acara berdansa di paling depan panggung, tanpa malu-malu, namun manis sekali. Beruntung, mereka masih memiliki 4 penyanyi yang berusia sekitar 25 sampai 30-an tahun.

festival-bambu-2Dan suara mereka tidak diragukan lagi, bagai mengetuk langit dan jiwa-jiwa manusia untuk bergabung dalam kemerduan suka ria tanpa batas. Tanpa batas menikmati musik. Bagi saya, mereka tetap ‘berpesta’ sepi atau ramai karena ritme-ritme yang keluar dari bambu mampu membuat penonton terkesima. “Semoga musik bambu terus ada, dan bisa meningkatkan pendapatan keluarga,” ucap Agustina, pemain Kolintang Bambu. Selain agar musik bambu terus ada, juga untuk meningkatkan pendapatan keluarga.

“Saya ingin anak-anak muda di sini bisa bermain musik bambu dan melestarikannya. Biar orang-orang di luar sana tahu musik bambu asal daerah kita. Gini-gini alat musik bambu pernah naik pesawat, lho!” kata Nikolaus. “Jao raa bere ne’e go nua tana kita ne’e adha Flores (cinta tanah air dan kebudayaan Flores),” kalimat ini tepat buat seorang Nikolaus Nono, pelatih, pemuka adat dan budaya Flores. (naskah dan foto: Sari Novita/Heti Palestina Yunani)