Berjuang Mengejar Nuansa Magis Wat Arun

Pagi hari yang cerah dan sejuknya angin, menyapa saya yang baru saja terbangun di salah satu penginapan daerah China Town di Bangkok. Saya buka lagi semua catatan dan rencana perjalanan. Gambar tiga buah kuil besar dengan puncaknya yang menjulang tinggi ke langit di tepi sungai dengan tulisan Wat Arun, menarik perhatian saya.

wat-arun-1Pagi itu juga saya putuskan pergi ke Wat Arun. Saya siapkan segala perlengkapan travelling ala backpacker seadanya. Suasana jalan yang biasanya ramai dengan kendaraan dan orang berlalu lalang tampak lengang. Mungkin karena waktu masih menunjukkan jam tujuh pagi. Padahal, pada waktu-waktu seperti ini hiruk-pikuk di Bangkok biasanya sama dengan situasi di kota besar, Jakarta misalnya.

Saya pun membuka peta, satu hal yang tidak saya lupakan ketika berjalan-jalan di kota asing. Berbekal itu, saya mencari arah jalan yang benar dan lebih cepat mencapai Wat Arun. Ah, ketemu. Saya mulai melangkah di sepanjang jalan menuju kawasan Kuil Wat Arun, diiringi bias mentari yang hangat. Meski begitu, keringat mulai membasahi baju. Tapi saya sangat antusias.

Letak Wat Arun ternyata sangatlah strategis dan mudah ditemukan. Jika dilihat dipeta, Wat Arun berada tepat di seberang Sungai Chao Phraya. Sungai itu panjang mengalir di tengah-tengah kota. Untuk menuju Wat Arun, Anda dapat menyeberangi sungai dengan pier yaitu kapal kecil berkapasitas 20-30 orang.

Di sepanjang Chao Phraya, banyak tawaran jasa penyewaan kapal ataupun feri untuk menyeberangi sungai. Saran saya, pilih dermaga terdekat dengan lokasi Wat Arun dan biasa dilalui para wisatawan. Masalah harga, Anda tidak perlu cemas untuk merogoh kocek terlalu dalam karena biaya yang diperlukan hanya sekitar Baht 3 sekali jalan.

wat-arunSaya pun ikut menunggu antrean kapal di salah satu dermaga. Hari itu, banyak juga wisatawan yang ingin berkunjung ke Wat Arun. Kira-kira hanya perlu waktu lima sampai sepuluh menit untuk sampai ke seberang sungai yang ternyata sangat keruh dengan warna kecokelat-cokelatan. Tak jauh beda dengan sungai di Jakarta.

Sesampainya di seberang, saya melihat daya tarik Wat Arun Wat Arun yang dijuluki sebagai Temple of Dawn atau Kuil Fajar. Sesuai namanya, kuil ini dibangun untuk menghormati Dewa Aruna, Sang Dewa Fajar. Sebagai kuil dewa, keindahannya terasa saat dilihat dari kejauhan, tepat ketika matahari akan terbit.

Dalam kondisi begitu, bayangan siluet Wat Arun di bawah cahaya matahari yang baru terbit dengan latar langit pagi yang cerah, jadi pemandangan menakjubkan. Namun sayang, hal cantik itu terlewat karena hari sudah menjelang siang ketika saya tiba. Setelah membayar tiket masuk dan membaca peraturan yang tertulis, saya langsung melangkah menuju pintu masuk Wat Arun.

Tampak dari kejauhan, bentuk kuil Wat Arun didominasi dengan candi dan stupa yang besar. Sekilas terlihat kuil-kuil atau yang wat di Thailand sedikit berbeda dengan kuil-kuil di Jepang atau Korea. Jika dilihat dari struktur bangunan dan arsitekturnya, kuil-kuil di Jepang ataupun Korea lebih banyak menyerupai rumah ibadah besar yang berbahan dasar kayu.

Sedangkan kuil di Thailand lebih banyak menyerupai candi-candi dengan stupa besar menjulang tinggi. Inilah yang menjadi karakteristik atau ciri khas kuil Thailand. Meskipun memiliki perbedaan bentuk, kuil-kuil ini tetap memiliki fungsi yang sama sebagai tempat beribadah dan tujuan wisata bagi umum.

Seperti umumnya wat, kita akan temukan patung-patung dewa terbuat dari batu. Patung yang biasa disembah dalam agama Buddha itu perwujudan dewa pelindung atau penjaga, keselamatan, keberuntungan, dan lain sebagainya. Semua patung batu ditempatkan dengan susunan dan pengaturan yang baik di setiap sudut kompleks Wat Arun mulai dari pintu masuk sampai pintu keluar.

wat-arun-5Ketika saya menyusuri bagian demi bagian dalam Wat Arun, ada banyak ukiran-ukiran atau relief yang sangat jelas di sepanjang dinding candi. Saya berhenti sejenak dan berusaha menyelami makna yang tersembunyi di baliknya. Sebagian besar bergambar orang-orang bersayap burung.

Percaya tidak percaya, saya seperti merasakan atmosfer bernuansa spiritual yang kuat antara relief pada dinding candi dengan diri saya. Apalagi bentuk candi dan relief di Wat Arun mengingatkan saya dengan hal serupa di Candi Borobudur atau Candi Prambanan.

Sayang, Wat Arun terlihat kurang perawatan. Banyak sekali batu, arca, dan patung pahatan yang sudah usang dan kurang dibersihkan. Cat-cat putih yang mendominasi terlihat terkelupas atau bercoret-moret. Namun panorama ‘magis’ di atas candi tiga buah candi besar yang mendominasi kompleks Wat Arun tetap terasa kuat.

Candi terbesar di tengah-tengah kompleks Wat Arun bida dipanjat melalui puluhan anak tangga yang sangat terjal. Mulanya, anak tangga yang tinggi menjulang dari bawah hampir membuat semangat saya padam. Sebab tangga itu bukan cuma miring sudutnya, tetapi hampir vertikal atau membentuk garis tegak lurus.

wat-arun-3Saya dan pengunjung lainnya bersusah payah menaiki tangga demi mencapai puncak candi. Untungnya, di setiap sisi tangga ada pegangan sehingga pengunjung sedikit terbantu untuk sekadar beristirahat sejenak atau mengambil napas sebelum melanjutkan pendakian.

Saat turun, keraguan itu kembali terulang. Bila kita melihat anak tangga tersebut dari atas, rasanya sangat menyeramkan dan melelahkan. Tetapi semua jerih payah tersebut pasti kan terbayar lunas dengan pemandangan indah dan elok dari atas candi. Hanya itu yang terus saya pikirkan dalam kepala sebagai penyemangat untuk naik dan turun menuju candi.

Dari atas candi, pemandangan menakjubkan Kota Bangkok dan lebarnya Sungai Chao Phraya memang luar biasa. Apalagi cuaca saat itu sedang tidak mendung dan sangat bersahabat. Angin sepoi-sepoi dengan lembut mengelus muka saya dan terkadang menggelitik. Terlihat nun jauh di sana, dermaga atau pier tempat saya diturunkan dari kapal.

Banyak pepohonan hijau tinggi dan lebat mengelilingi sekitar kompleks Wat Arun yang begitu luas. Kesibukan kapal dan speed boat yang melintasi Chao Phraya jadi tambahan menarik. Dari seberang sungai, terlihat bangunan kuil cukup besar dan luas, yaitu The Grand Palace. Bagian Istana Kerajaan Thailand ini punya stupa yang bentuknya hampir sama dengan Wat Arun. Hanya saja The Grand Palace jauh lebih luas.

Dari atas candi pula, saya menikmati pemandangan alun-alun kota di mana banyak orang berdagang di sana. Rasanya semua kesibukan di seluruh penjuri Kota Bangkok dan aktivitas keseharian masyarakatnya didapat sekaligus dari atas. Inilah yang menjadikan pemandangan dari Wat Arun saya anggap sebagai sesuatu yang ‘magis’, yang sayang dilewatkan.

Tak ada lagi menyesal karena telah menguras banyak tenaga dengan mendaki tangga ketika melihat semua hal menakjubkan itu. Selain Wat Arun, magnet utama yang dapat menggaet para wisatawan berkunjung ke Thailand, memang dari banyaknya kuil indah dan megah. Kuil itu tersebar hampir di seluruh penjuru negeri yang masyarakatnya dominan memeluk Buddha.

wat-arun-2Saya mengamati masyarakat melakukan upacara ritual tidak hanya sebagai rutinitas, tetapi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mereka melakukan ibadah atau upacara keagamaan di kuil-kuil ataupun tempat-tempat pemujaan lain. Kuil bagi masyarakat Thailand, adalah tempat yang sakral namun juga dibuka sebagai tempat wisata andalan.

Tak terasa hari sudah mulai sore, saya pun bertolak dari Wat Arun dan kembali ke penginapan. Perjalanan kali ini menyadarkan saya bahwa hasil yang baik akan diperoleh apabila kita mau berupaya keras. Lebih baik berusaha daripada tidak melakukan apa-apa sama sekali. Saya berjanji dalam hati akan kembali lagi suatu hari. Apalagi kalau bukan untuk menyaksikan dan mengabadikan momen ‘magis’ Wat Arun pada saat fajar menyingsing. (naskah dan foto: Alvin AS/Heti Palestina Yunani)