Berempat ‘Membuat’ AMPYANG

Menggabungkan empat rupa desain dari empat profesi yaitu arsitek, crafter, graphic designer dan interior designer tentunya bukan hal mudah. Adalah Hari Yong Condro, seorang fotografer dan seniman yang mampu mengemasnya sehingga lahirlah Pameran Seni ‘Ampyang, Kacang Cino Gulo Jowo’.

Sebuah pameran yang menampilkan tema akulturasi yang terjadi dalam masyarakat Indonesia.  Produk  percampuran dari berbagai budaya dan kebiasaan dari luar ( baik antar suku dan negara ) dengan  budaya local sehingga melahirkan identifikasi baru untuk kepentingan bersama dan mengurangi perbedaan antar individu/ kelompok.

Sesuatu yang sederhana seperti becak, musik keroncong, wayang atau bahkan bangunan seperti Borobudur. Jika menilik dari sejarah maka ini semua bukan asli Indonesia. Proses akulturasi yang panjang mengaburkan orisinalitas benda – benda tersebut. Jadi apakah perlu diperdebatkan siapakah yang paling berhak memiliki?

Toleransi dan bersikap terbuka untuk menerimanya sebagai keberagaman. Dan tanpa disadari, dalam kesehariannya masyarakat telah proses akulturasi tersebut. Pemilihan judul pameran ini sangat unik. Ampyang, yang kita tahu adalah sebuah jajanan rakyat yang terbuat dari kacang dan gula, dikenal juga sebagai jajanan gula kacang.

Ampyang, yang merupakan sebutan untuk orang yang berdarah  campuran antaran Cina dan Jawa. Keempat seniman ini memaknai dari sisi berbeda, bahwa ampyang adalah sebuah simbol akulturasi yang terjadi dari hal sederhana dan semanis gula kacang. Bahkan keempat seniman berasal dari latar belakang berbeda yaitu Jawa, Cina dan Belanda namun sudah melebur dalam keseharian yang sangat Indonesia.

Dan sangat arek Suroboyo tentunya. Itu tercermin dari keempat perupa. Profesinya sebagai arsitek dan sekaligus pengajar di Universitas Kristen Petra, Aloysius Erwin S menampilan bangunan cagar budaya dan kota tua dalam aliran urban sketching. Ciri khasnya sebagai sketcher tercermin dalam balutan pallet minimalis di atas kertas watercolor.

Lalu adapula seorang desainer grafis dan fotografer yang mengajar Digital Multimedia Design di Lasalle College Surabaya, B.G.Fabiola Natasha menorehkan china ink  cair dan yang berbentuk balok-balok kecil pada kertas phi zhi untuk memvisualkan beberapa dolanan rakyat dan kesenian Indonesia. Proses mounting (atau yang disebut sebagai teknik piao) dikreasikan dengan menggunakan kain vislin.

Nani Wijaya, yang kesehariannya adalah seorang crafter, menuangkan pemikiran akulturasi dalam media watercolor diatas kayu, kertas dan polycarbonate. Dalam karyanya, Nani membawa pesan tentang tokoh Gesang dan juga makanan sejuta umat, bakmi.

Sementara pakar scribble dan pengajar Interior Design di Universitas Kristen Petra, Rachmad Priyandoko memilih menggunakan bahan yang sangat unik yaitu kawat, kap mobil, mika dan papan whiteboard untuk mengimajinasikan punakawan.

Narator pameran, Heti Palestina Yunani memberikan ulasan bahwa akulturasi sesungguhnya selesai dan terus berlangsung lewat karya-karya empat perupa ini. Apa yang dituangkan empat perupa ini bukan lagi sekadar ajakan memahami akulturasi dalam seni karena kita terus menjadi human being yang berkembang secara jiwa dan raga.

Proses akulturasi dalam diri mereka juga telah dianggap Heti selesai karena sejatinya tak ada lagi yang asing dalam diri mereka untuk disatukan dalam kehidupan. Keempatnya sudah memiliki kebudayaan itu secara ‘ampyang’ alias paduan lekat antara kacang cino gulo Jowo, dari proses panjang sebelumnya.

Pameran yang dibuka pecinta seni F.Hartati Tjahjono itu diisi talkshow ‘Ampyang’, antara Psikologi dan Seni‘ bersama Ananta Yudiarso S.Sos., M.Si. seorang dosen Fakultas Psikologi Universitas Surabaya pada Kamis, 2 Juni 2016 pk.15.00 WIB. Pameran berlangsung dari tanggal 27 Mei hingga 18 Juni 2016 di Galeri Seni House of Sampoerna, Surabaya. (naskah dan foto: Fabiola/editor: Heti Palestina Yunani)