Berburu Pertemuan dengan Komodo Liar di Pulau Rinca

Road Trip Nekat Mengeksplorasi Selatan Indonesia (23)

Destinasi pun dilanjutkan ke Pulau Rinca. Kami mencapainya saat siang hari karena pulau ini dari jalur pelabuhan Subita harus memutar balik jauh. Jadilah kami menghabiskan waktu lebih dari tiga jam di atas laut. Berdasarkan pengalaman, itinerary seperti ini sangat tidak disarankan. Tiba di Loh Buaya, Pulau Rinca dengan disambut gapura berpatung komodo dan lebih terasa wild-nya daripada di Loh Liang.

Gerbang Masuk Pulau RincaSetiba di bangunan pertama, kita sudah disambut oleh komodo yang sedang bersantai di bawah pohon untuk menghindari terik matahari. Ternyata melihat komodo tidak seperti yang dibayangkan, harus trekking panjang lalu di tempat sepi baru akan bertemu mereka. Setelah membayar tiket tambahan dari Loh Liang, kami memilih medium track dengan harapan bisa melihat komodo liar.

ObesitasHasil BuruanMelewati bangunan selanjutnya kami dipertemukan kembali dengan sekumpulan komodo yang sedang bersantai di bawah bangunan, yang setelah dilihat ternyata bangunan tersebut adalah dapur umum. Menurut informasi dari ranger, komodo-komodo itu sudah terbiasa memakan limbah makanan sisa dapur, tetapi di luar Pulau Rinca pun masih terdapat banyak komodo liar yang mencari makan sendiri.

Setelah berputar melalui jalur tersebut selama hampir 2 jam melalui medan yang hampir sama seperti di Bukit Subita. Selesai ternyata hari ke dua untuk trekking di kedua pulau tujuan destinasi kami. Benar-benar antiklimaks, hari pertama yang begitu mempesona akan keelokan alam beserta hewan liarnya dibanting oleh hari ke dua. Sayang saya tak bisa bertemu dengan hewan buas yang saat dilihat hanya tertidur dan bangun saat dipancing oleh aroma daging segar.

Senjata RangerPerjalanan saat ini memang kalah telak oleh sang komodo, dipukul jab kanan-kiri lalu uppercut hingga TKO oleh elang tiram dan manta, demikian dalam hati dan pikiran saya. Senja di Labuan Bajo menyambut kehadiran saya setelah sailing trip 2 hari 1 malam di sekitar pulau-pulau kecil bagian Flores.

Sesampai di rumah makan Padang tempat saya menginap, tumben semua kamar terisi penuh. Hari itu ternyata penyeberangan menuju Sumbawa tidak ada karena arus yang besar hingga waktu yang belum ditentukan. Malam hari itu pun saya habiskan untuk beristirahat tanpa mempedulikan esok hari akan ke mana. (naskah dan foto: Geraldine Fakhmi Akbar/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)