Belajar Membuang Egoisme dari Sikerei

Melawat ke Mentawai: Bumi Para Sikerei (2)

mentawai-2a-mencari-ikan
Para perempuan Mentawai mencari ikan

Dari setiap perjalanan, saya selalu mendapatkan pelajaran. Kali ini dari pekerjaan antara laki-laki dan perempuan dalam keluarga Suku Mentawai yang dibagi dengan jelas. Patokannya; kalau laki-laki berburu, yang perempuan menangkap ikan. Saat menangkap ikan, ada kostum khusus untuk para perempuan, yaitu semacam rok dari daun pisang yang diikatkan ke pinggang. Fungsinya untuk membuat ikan tidak takut karena mengira kita adalah tanaman.

Sementara perburuan dilakukan dengan menggunakan parang dan panah yang ujungnya sudah diolesi racun buatan sendiri. Bahannya campuran yang terdiri dari cabe rawit, lengkuas, tuba dan ragi. Menurut mereka, racun ini aman diminum, tetapi begitu terkena kulit yang luka, jangan harap bisa berjalan sampai 10 langkah! Fine, but I am skip! Dibayar berapa pun saya tidak mau minum racun itu hehe.

mentawai-2a-trekk-4
Sempat trekking melihat perempuan Mentawai mencari ikan

Suku Mentawai kuat dalam tradisi berbagi, terutama berbagi hasil buruan atau ikan hasil tangkapan dengan seluruh anggota keluarga yang masih satu klan. Setelah hasil buruan dikumpulkan, kentongan kayu dibunyikan tanda seluruh anggota keluarga dipanggil. Mereka percaya bahwa sense of sharing ini melindungi keluarga mereka. Jika hasil tangkapan tak dibagi, diyakini akan timbul malapetaka bagi keluarga itu.

Rasa berbagi itu kental. Seperti saat berbincang dengan Pak Kuki dan Toikod, para sikerei, beliau duduk di sebelah saya sambil makan biskuit. Dia memotong biskuit menjadi dua dan memberikan separuhnya kepada saya sambil berkata; ”Berbagi”. It was really nice! Itu satu hal sederhana yang mencerminkan tidak adanya egoisme dalam kehidupan suku ini.

Oiya sikerei adalah sebutan tabib dalam Suku Mentawai. Dalam struktur masyarakat, sikerei posisinya paling tinggi karena merupakan orang-orang terpilih yang memiliki kemampuan mengobati dan melindungi desa. Tidak mudah menjadi Sikerei, biasanya ditunjuk secara turun-temurun. Itu pun tidak semua keturunan bisa dan mau. Meski begitu, ada pula yang menjadi Sikerei karena belajar dan mendapatkan ‘tanda-tanda’ bahwa dia memang diharuskan untuk menjadi seorang sikerei.

mentawai-2c-pak-toikod-sang-sikerei
Pak Toikod, salah satu sikerei

Syarat-syarat menjadi Sikerei memang berat: seseorang harus melewati beberapa tahapan dalam hitungan tahun, diuji baik secara mental maupun fisik, dari kemampuan mengenali dan meramu obat-obatan, hingga melakukan ‘meditasi’ dengan pergi ke Pulau Sipora untuk ‘menemui’ Pagetasabbau, yaitu roh leluhur para sikerei. Setiap tahap diadakan upacara yang mengharuskan mereka memotong babi dan ayam yang tidak sedikit sebagai salah satu syarat pengangkatannya sebagai sikerei.

mentawai-2b-pak-kuki-sang-sikerei
Pak Kuki, sikerei, sedang membuat ramuan

Beratnya kagi, pantangan seorang sikerei pun tidak sedikit. Mereka dilarang makan pakis, babi, bilou atau sejenis monyet khas di Mentawai, belut, tupai dan kura-kura. Jika ada panggilan untuk mengobati orang sakit, mereka harus meninggalkan kegiatan yang sedang dilakukan saat itu juga. Tanpa kompromi. Pada saat mengobati, istri para Sikerei juga harus berhenti melakukan semua kegiatan di Uma maupun di ladang.

Saat itulah si istri juga harus berpantang seperti yang dilakukan sikerei. Menariknya, seorang sikerei diharamkan beristri lebih dari satu, meski sebagai tetua adat tertinggi dalam suku ini wajar jika banyak yang naksir. Selain mempunyai kemampuan spiritual dan pengobatan, sikerei juga pemimpin ritual dan upacara adat Suku Mentawai, termasuk saat membangun Uma, penggantian atap, upacara perkawinan, ritual penyembuhan orang sakit, maupun mengajari para Sikerei muda yang akan diangkat.

Para sikerei juga biasanya mempunyai suara bagus karena mereka akan melakukan urai (nyanyian) dan turuk (tarian) pada tiap ritual dan upacara tersebut. Sikerei juga bertugas menjaga dan menghindarkan seluruh anggota keluarga dari segala bahaya. Itu sebabnya, mereka makan setelah semua anggota keluarga lain sudah selesai makan, tidur setelah semua anggota keluarga tertidur, dan bangun sebelum yang lainnya bangun. (naskah dan foto Monique Aditya/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)