Batik Keris Eksis Sampai Pasar Shejo

batik keris-duplikasi jam Big Ben di depan pasar Suara tape recorder yang nyaring dari los sebelah menghantarkan lagu lawas ‘Demi Cinta Ni Yee’-nya Hetty Koes Endang. Hal yang lazim ditemukan di pasar manapun, mau yang pasar tradisional, pasar modern, pasar turis atau pasar grosir.

Namun lagu itu jadi istimewa saat mendengarnya di tengah keramaian pasar Zeycho (saya tak tahu pasti spelling-nya, ada yang menulisnya Shejo). Ini sebuah pasar besar yang sering jadi sasaran kunjung para turis sewaktu melewatkan waktu di Kota Mandalay, Burma.

Saya tersenyum simpul campur bangga, soalnya lagu tersebut dinyanyikan dalam bahasa lokal. Suara centil ketika melantunkan bagian: “malam minggu, si malam panjang” (tentunya dalam bahasa mereka) membuat saya tertawa kecil.

Ciri khas pasar turis nan luas ini ialah adanya sebuah jam besar yang merupakan duplikasi Big Ben di jalan raya depan pasar. Memasuki los demi los yang ada dari lantai dasar sampai ke lantai teratas, bermacam produk dapat kita beli disini. Kebutuhan sehari-hari, pakaian, makanan, minuman, handicraft, perhiasan, textile dan sebagainya.

batik keris-los textille Seorang ibu yang menjual kain batik ramah menawarkan dagangannya. Sementara saya memperhatikan ‘bedak tannaka’ yang samar menghias pipinya, dia menunjuk satu persatu kain yang terpajang dan menjelaskan darimana. Perasaan saya datar saja ketika dia mengipas-ngipas wajah untuk menghalau panas dan mengatakan bahwa sejumlah kain batik di belakangnya kebanyakan dari negara tetangga kita.

Diambilnya juga beberapa motif kain batik lokal. Begitu dia berkata bahwa Batik Keris dari Indonesia adalah yang terlaris dan digemari, tak sabar saya mencari di mana dia men-display. Rasanya senang dan tersanjung gitu deh walau dalam hati berpikir, siapa gerangan kelompok pedagang batik yang sudah memperkenalkannya sampai ke tempat sejauh ini?

batik keris eksis di pasar Shejo)Saya melayangkan pandang ke segenap sudut lapak si ibu. Waw…, banyak benar koleksi Batik Kerisnya! Sulit melupakan bagian yang membuat saya tersipu, yaitu menjumpai salah satu Batik Keris sebetulnya tepat berada di depan mata saya. Halah, bisa-bisanya saya nggak ngeh sejak melipir tadi!

Lagi-lagi si ibu menyebut keunggulan Batik Keris asli Indonesia itu. Dia bilang, tak hanya motif, bahannya juga adem dan warnanya awet. Ah, jadi makin excited! Apalagi, saya melihat rombongan bule yang baru datang langsung menyentuh dan memegang kain batik tersebut. Rasanya mau bantuin si ibu dengan berkata, “Kualitasnya bagus, Pak Lek, Bu Lek!”. Kan mereka bule toh,  hahahahha. (teks dan foto: Lucy Liestiyo/editor: Heti Palestina Yunani)