Bangkai Kenangan by Damhuri Muhammad

1 BANGKAI KENANGAN
Tangkap

Ditangkap sudah ditangkap, tapi tidak semua perangkap jitu mengebat buruan. Badan bolehlah terkurung, tapi tengoklah matanya begitu nyalang, lepas menuju alam bebas. Maka, bersiaplah mengurut dada, bila kelak telah bertukar rapat dengan renggang.

Kekang

Dikekang sudah dikekang, tapi tidak semua kekangan bakal ampuh menjinakkan keliaran. Maka, segeralah singkapkan pintu sangkar, agar ia kembali mengepakkan sayap, terbang menuju kehilangan.

Catat

Dicatat sudah dicatat, tapi tidak semua catatan bakal tersampaikan. Maka, biarlah mereka ditakdirkan menjadi catatan lapuk, yang kelak bakal menguap, lalu berpulang ke asal mulanya.

Kenang

Dikenang sudah dikenang, tapi tak semua kenangan bakal kekal dalam ingatan. Maka, lekaslah menggali liang bagi sejumlah bangkai kenangan. Bangkai-bangkai yang kelak akan kembali ke sejarah mula-mulanya.

Hilang?

Kelak, bilamana orang-orang bertanya, ke rimba mana gerangan ia menghilang? Katakan saja, ia tidak menghilang, tapi hanya sedang mengurangi jumlah kedatangan.
2013

2 KHIANAT UMPAN

Mengenang alibi sebutir umpan yang selalu menjanjikan tangkapan besar kepada seorang pemancing tua. Padahal, dari petang ke petang, umpan itu senantiasa membelah diri, luluh, dan menyerpih digilas deras arus dari hulu. Sementara pemancing tua terus saja menunggu, bahkan hingga bungkuk tubuhnya kini telah melampaui lengkung mata kailnya sendiri.

2012

3 BAU TUBUHMU

Bau tubuh yang kaulampirkan di surat elektronik kemarin malam
akhirnya berhasil juga aku unduh
meski resolusinya sedikit menurun
hingga aroma ganjil itu hanya mewakilkan peluh masa kanak-kanakmu

2012

*Ilustrasi puisi by NH Dini berjudul Cemar di Tepi Sungai, 29×40 cm, China Ink