Balug; Rumah Penyimpan Tengkorak

rumah-adat-balugRumah adat Dusun Hliebo, Desa Sebujit, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat ini unik. Namanya balug. Meski serumpun dengan Suku Dayak, bentuk rumah adat Suku Dayak Bidayuh berbeda dari Suku Dayak yang kebanyakan berbentuk panjang dan besar dengan nama Rumah Betang. Perbedaan ini dikarenakan kontur tanah kampung Sebujit didominasi perbukitan dan lembah sehingga tidak memungkinkan membangun Rumah Betang.

Balug biasanya dibangun di dataran paling tinggi di kampung supaya makin mendekatkan diri kepada Tipaiyakng (Tuhan) dan memudahkan untuk memantau keadaan kampung. Selain itu juga balug digunakan sebagai pusat kegiatan warga kampung dan pusat informasi. Tahun 2010, replika Rumah Balug dibangun di Taman Mini Indonesia Indah.

Bentuknya seperti kaleng ceper beratap limas dengan 3 tingkatan dan 1 buah bumbungan sebagai tempat menyimpan peti berisi tengkorak hasil ngayau. Terakhir balug dibuat pada 1997 yang dibagun sama persis dengan balug yang dibuat pada 1950-an. Ada 21 tiang penyangga untuk memerkokoh balug. Lantainya terbuat dari kayu belian, dengan dinding terbuat dari bambu dan atapnya terbuat dari daun sagu. Tingginya sekitar 20 meter.

Untuk naik ke atas, harus menggunakan tangga terbuat dari sebatang kayu belian yang ditata menyerupai tangga dengan parang. Saat masuk beranda, kita akan disambut sepasang patung perempuan dan laki-laki nenek moyang Sebujit yang menggunakan baju adat. Meski kecil, terdapat 3 tingkat di dalam rumah yang mirip limas ini.Kampung Sebujit dan Balug

Tingkat pertama berisi tulang tulang kepala binatang hasil buruan, mulai dari babi hutan, rusa dan banyak lagi yang lain. terdapat tungku untuk memasak, beberapa tempayan dari hasil membayar adat dan digunakan menyimpan air dan jimat untuk ritual.

Alat musik seperti tawak dan gong juga diletakkan di sini serta beberapa alat masak dan alat dapur. Terdapat tempat mencuci piring di sebelah selatan dan berhadapan lurus dengan pintu masuk di sebelah utara. Tingkat pertama ada 2 jendela mendongak ke atas dan disangga dengan bambu dan menghadap timur dan barat.

Jendela ini mewakili 2 klan prajurit yaitu Demos (timur) dan Danum (barat). Fungsi jendela ini sebagai penanda jika salah satu klan berhasil mendapatkan kepala pada saat Ngayau, maka jendela akan terbuka dan dari sana ditembakkan senapan lantak.

penulis dan teman temanLantai 2 tidak besar, hanya sekitar 5×5 meter. Selain hanya berfungsi sebagai penghubung lantai 1 dan 3, lantai 2 digunakan untuk menyimpan sebuah bedug atau Sibakng sepanjang kurang lebih 9 meter yang terbuat dari kayu bira yang dilubangi bagian tengahnya dan untuk ditambahkan kulit rusa.

Sibakng ini tergantung dari lantai 2 dan tembus hingga hampir setengah tinggi balug, diameternya sepelukan orang dewasa. Makin ke bawah semakin mengecil diameternya. Fungsi seperti layaknya bedug sebagai penanda atau digunakan sebagai alat musik pengiring ritual adat. Sibakng ini dapat dimainkan bersama alat musik lain atau dimainkan secara solo.

Lantai 3 merupakan tempat sakral untuk melakukan ritual memandikan tengkorak, tidak bisa sembarangan orang berada disana, hanya 7 orang yang terdiri dari kepala adat dan 6 orang tetua yang boleh naik kesana untuk melakukan ritual.

Biasanya prosesi di lantai ini sangat susah untuk di lihat, hanya orang-orang yang mempunyai izin dari kepala adat saja yang dapat melihat. Itu pun kita hanya bisa berjinjit dari lantai 2. Di sini juga terdapat 2 jendela yang menghadap utara dan selatan.

Lantai paling atas atau bumbungan adalah tempat kecil untuk menyimpan tengkorak kepala yang dikeramatkan dan dianggap sebagai Kamakng atau penjaga kampung. tengkorak tersimpan di dalam peti kayu berukuran 1x2m. Tidak sembarang orang bisa memegang dan memindahkannya dari lokasi itu.

TBalug di pagi hariengkorak ini hanya dikeluarkan 1 tahun sekali pada saat Nyobeng, tradisi Suku Dayak Bidayuh untuk mengucap syukur. Tengkorak dimandikan menggunakan darah ayam dan babi. Dulu, Rumah Balug dulu digunakan untuk melakukan musyawarah dan mufakat serta merupakan pusat dari segala informasi. Penghubung antara warga dengan roh leluhur melalui perantaraan kepala adat.

Saran saya fotolah rumah adat ini dari jarak 200-300 meter, pasti terlihat eksotis dan indah. B (naskah dan foto: Dony Prayudi/editor: Heti Palestina Yunani)