Bakti; Tembok Pertahanan Cinta Kartini

“Betapa mengherankan cinta; dia adalah surga dan neraka itu juga.”

Dari sejumlah kata-kata yang ‘meledak’ dari otak Kartini, saya menjumput bagian dari suratnya tertempo Agustus 1900, kepada MCE Ovink Soer. Bagaimana Kartini menuliskan itu? Tentu perempuan yang digolongkan sebagai salah satu pemikir modern Indonesia pertama-tama itu telah melaluinya, bukan katanya-katanya. Sekalimat itu saya anggap paling tasmatas untuk ‘menasirameskan’ film “Kartini” yang saya tonton tepat di Hari Kartini 2017. Berdurasi 2 jam 1 menit, “Kartini” sangat deras mengalirkan tentang penerjemahan cinta; surga dan neraka dalam hidup Kartini. Semua sanggup dilakukan perempuan bernama kecil Trinil itu, atas nama bakti.

Bakti dalam Bahasa Indonesia mengandung kata tunduk, hormat, perbuatan yang menyatakan setia, dan ada kasih. Bahkan bakti menggendong makna memperhambakan diri, bisa pada Tuhan, orang tua, nusa, bangsa atau pada rakyat. Dan Kartini sanggup melakukan semua bakti itu dengan segala suka dan dukanya. Mengapa bisa? Selalu dalam resensi film yang saya buat, saya tak pernah lari dari definisi cinta yang pengejawantahannya bisa dalam aneka rupa makna. Dalam “Kartini”, bakti yang dilakukan Kartini tak lain karena alasan itu. Ia tak ‘berkutik’ karena bakti adalah wujud cintanya yang terpuncak.

Soal cinta, Kartini sungguhlah beda. Kalau umum bilang bahwa cinta selalu buta, Kartini tidak. Pramoedya Ananta Toer menulis dalam bukunya “Panggil Aku Kartini Saja’, jika Kartini suatu kali bilang bahwa cinta tidak pernah buta. Cinta bagi Kartini adalah memberikan segala-galanya dan berhenti memberi apabila napas berhenti berembus. Analisis Pram itu masuk akal. Bagaimana mau mencintai jika kita gelap mata? Maka selama film diputar, saya mengguratkan stabilo terang pada sejumlah ‘kisah-kisah cinta tidak buta’ Kartini yang diangkat sebagai penggambaran bakti-bakti yang dijalankan perempuan kelahiran Mayong itu.

Dibuka dengan Kartini (diperankan Dian Sastrowardoyo) yang mlaku ndodok, film besutan Hanung Bramantyo itu sejak mula menjejalkan sebuah simbol bakti tertinggi dalam diri manusia. Sebagai pemaknaan bakti, adegan itu mengantar penonton pada salah satu rupa cinta; ada surga ada neraka yang dimasuki Kartini sepanjang 25 tahun hidupnya yang syarat kebajikan. Dalam tradisi Jawa, berjalan dengan cara demikian tak hanya menyiksa kaki dan paha, tapi itu perlu menundukkan jiwa selain menunjukkan strata yang jelas pada orang yang melakukannya. Dasarnya tak lain adalah bakti.

Sudah pasti mlaku ndodok hanya dilakukan para bawah kepada para atas. Bisa jadi oleh rakyat kepada penguasa, abdi dalem kepada raja, dari wedana kepada bupati, atau dari anak kepada orang tuanya, bisa manusia kepada Tuhannya. Dan sebagai anak, Kartini melakukannya untuk sang ayah, Bupati Jepara. Dikisahkan Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat memanggil anak kesayangannya itu menjelang momen penting dalam daur hidup Kartini; menikah. Adegan ini gamblang menunjukkan Kartini yang sangat-sangat menghormati ayahnya, pelaku feodalisme yang diperanginya. Padahal pada kedua adiknya; Kardinah dan Roekmini, Kartini tak menyuruh mereka harus mlaku ndodok kepadanya, tapi Kartini menjunjung tinggi tradisi itu untuk orang terpilih; ayahnya, idolanya.

Sampai di adegan ini, Hanung sengaja memenggalnya. Ia menyimpannya untuk mengolah cerita lebih jauh tentang bakti-bakti lain yang dilakukan Kartini. Cerita beralih cepat pada jiwa pemberontak Kartini kecil yang sudah nampak meski masih dalam persoalan sepele; ia merengek ingin tidur dengan Yu Ngasirah, ibunya (diperankan Christine Hakim). Karena bakti, Ni-panggilan Kartini, akhirnya saguh (sanggup) berpisah tidur dari ibunya karena ia calon Raden Ayu, sebutan yang dihindarinya. Setelah itu, beruntun gambaran bakti Kartini menjadi red line Hanung tentang sekian perjalanan hidup Kartini yang sangat asli dramatik tanpa didramatisir. Maka Hanung seperti dimudahkan membuat film ini berhasil secara sinematografi karena semua kisah Kartini memang gampang difilmiskan. Sayang, saya hanya terganggu narasi yang terkesan menempel tentang tradisi pingitan. Selebihnya, Hanung sudahlah jago soal film.

Banyak bakti Kartini. Mulai dari penerimaan pingitan di rumahnya sendiri sebagai baktinya sebagai perempuan Jawa, pada tradisi dan pada feodalisme yang mengikatnya. Karena baktinya pada ilmu jualah, menuntun Kartini belajar tanpa guru, tanpa sekolah, cukup dari buku, koresponden, dan berinteraksi. Karena baktinya pada nilai budaya, Kartini merasa harus terlibat dalam mengembangkan ukiran Jepara yang motifnya terpatenkan sebagai khas Jepara berkat perannya. Karena baktinya pada rakyat, Kartini mengajar sejumlah orang agar tahu bahwa pendidikan itu penting. Karena bakti pada seni, Kartini tak hanya belajar membatik, namun ia ahli batik yang karya batiknya telah dibukukan. Di dunia seni, Kartini juga pelukis. Lukisannya ada dalam media pensil, arang dan cat air. Duh, perempuan ini sungguh cerdas, ia juga penulis puisi, pengarang, penulis, dan jurnalis.

Atas nama bakti juga Kartini lalu mau menerima lamaran Bupati Rembang sebagai istri ke tiga. Dalam adegan menuju keputusan Kartini dipoligami inilah saya menilai bakti Kartini paling tinggi di antara bakti lain. Adegan sebagai ujian terhebat sebagai perempuan yang berjiwa bebas itu, rata-rata membuat penonton berlinang air mata cukup deras, termasuk saya. Pada bakti ini, saya baru mengherankan cinta yang dimaksud Kartini. Apakah sungguh harus menjalani neraka begitu? Saya mencoba memahami mengapa Kartini bisa melakukannya. Setidaknya ada empat hal yang mendasari baktinya untuk menjalankan pilihan terburuk dalam hidupnya itu. Pertama, baktinya pada agama. Tentu Kartini sangat tahu jika poligami dalam agamanya (Islam) punya dasar. Saya mengira ia pasti mengkajinya lebih dulu atau setidaknya telah bertanya pada Kyai Darat yang didorongnya melakukan terjemahan atas Alquran yang ingin dipelajarinya lebih dalam.

Ke dua, sebagai Raden Ajeng yang menuju gelar Raden Ayu, tradisi feodal mengharuskan ia hanya layak menikah dengan laki-laki setingkat bupati. Sebelumnya Kardinah menikah dengan Bupati Tegal hingga bergelar Raden Ayu Reksonagoro. Lalu Roekmini menyusulnya menjadi Raden Ayu karena menikah dengan Bupati Kudus, Ke tiga, bakti Kartini itu bisa dilakoninya karena hormatnya yang besar pada sang ayah. Tak tersangkalkan, meski ayahnya sendiri pelaku poligami yang ditentangnya, Kartini berkali-kali memuji ayahnya yang sangat ia cintai karena itulah kebahagiaannya. Seperti dalam suratnya kepada MCE Ovink Soer; “Mencintainya, mengormatinya bagi kami merupakan kebutuhan hidup yang menjadi sebagian terbesar kebahagiaan kami.” Ya Allah, bagaimana jika kebajikan itu tanpa bakti? Rasanya itu mustahil.

Ke empat, Bupati Rembang RTAA Djojohadiningrat ternyata lelaki yang sanggup memenuhi empat syaratnya jika dipersunting. Maka ia tak mau cidro (ingkar) janji karena sudah ditebus dengan kabulan harapannya itu. Tak sekadar syarat memberi harga mahal dirinya sebagai perempuan, Kartini menunjukkan bagaimana ia sekaligus berbakti meski harus mengorbankan kebebasan jiwanya sendiri. Padahal para penganut kebebasan mungkin tak seberani Kartini; menanggung neraka untuk surga orang lain. Tapi Kartini tak egois hanya mau didukung kepentingannya untuk mendirikan sekolah, atau emoh mencuci kaki calon suaminya dalam temu manten demi harga diri, tetapi ia mensyaratkan ibunya Yu Ngasirah dipanggil dengan gelar Mas Ajeng Ngasirah dan ditempatkan di rumah depan sejajar dengan ibu suri-ibu trinya, Raden Ayu Sosroningrat. Perjuangan Kartini untuk ibunya itulah bakti yang nyata sebagai anak. Di zaman ini, yang demikian itu kian langka.

Selain dari sisi Kartini, film ini menggambarkan kekuatan Ngasirah, tokoh perempuan lain di balik Kartini. Sebagai ibu, ia sangatlah berhasil mendidik ibu dari R Singgih Susalit itu sebagai anak ‘terhormat’ penuh bakti. Bukan karena bergelar Raden Ayu, tetapi karena tingginya level kemerdekaan jiwa Kartini. Ngasirah yang menjadi Yu untuk melayani dan menghormati anak-anak-anaknya sendiri, telah menanamkan bahwa cinta sekaligus harus dengan susah dan senangnya. Di adegan Ngasirah menarik keluar Kartini dari kamar pingitannya, saya memuji itulah filmis terbaik “Kartini.” Di pinggir danau, di bawah pohon, di atas batu, Ngasirah bertanya apa yang telah diajarkan oleh orang-orang Belanda itu padanya? “Kebebasan,” jawab Kartini, tepat.

Tapi Ngasirah yang mencontohkan diri telah duluan mengarungi keheranan cinta dalam surga dan neraka itu, mengingatkan bahwa ada yang tidak bisa diajarkan orang-orang Belanda dalam satu hal. Apa itu? Ialah BAKTI. Inilah filosofi terkuat yang saya tangkap dari “Kartini.” Pesannya tajam untuk generasi jauh di bawah Kartini yang enggan mempertahankan bakti karena takut dianggap kuno, kampungan dan tidak kekinian. Pernikahan Kartini yang menjadi ending “Kartini”, menunjukkan kekuatan bakti Kartini itu sekaligus kekuatan film produksi Robert Ronny. Itulah tembok pertahanan cinta Kartini pada derita yang ia sebut sebagai kemenangan batin tertinggi. So, meski menemui ‘neraka’ karena menjadi istri ke sekian dari seorang lelaki, Kartini yang sebenarnya bisa terbang ke Belanda untuk sekolah, tiga hari pascapernikahannya, tetap menganggap itu ‘surga’.

Di sini, Kartini sungguh mengherankan; baginya surga dan neraka itulah cinta. Cinta gila? Cinta absurd? Cinta masokisme? Saya membela Kartini; jelas bukan! Saya kira tak akan ada yang mengalahkan alasan apapun untuk melakukan sesuatu selain bakti, demi cinta pula. Kalau bakti adalah perwujudan cinta pada Tuhan maka manusia sedianya mampu menjalani segala dua mata sisi kehidupan; susah-senang, bengkok-lurus, bawah-atas, kecil-besar, kaya-miskin, kalah-menang, dll. Rasanya tak ada yang seberhasil Kartini dalam menanggung cinta mengherankan dengan sepaket surga dan neraka. Saya pun belum tentu. Tapi itulah kekaguman saya padanya. Bahkan derita ia katakan sebagai PEMBERIAN seperti suratnya pada 4 September 1901, kepada Nyonya Abendanon: “Derita-derita-derita tak lain daripada derita yang kami berikan pada orang-orang yang mencintai dan setia kepada kami itu.” Hmmm Kartini, bagaimana kamu bisa? (penulis: Heti Palestina Yunani)