Bahagia dalam Seni Sudra

seni sudra (4)Dalam kacamata intelektual seni kampus, industri budaya avant garde, ataupun birokrat budaya, seni yang diusung orang-orang gunung kerap dinilai sebagai seni tradisi rendahan. Sudra. Seni populer dari keseharian yang dalam perspektif seni adiluhung kurang bermakna, kurang nyeni, dan tak mriyayeni.

Namun, hal tersebut justru menjadi keuntungan tersendiri bagi Komunitas Lima Gunung, khususnya di hadapan publik nasional maupun internasional. Karena, seni yang kemudian mereka kreasi dan tampilkan menjadi tidak perlu disibukkan dengan bualan tentang makna-makna simbolik, perdebatan retorik, layaknya seni-seni adiluhung, dengan pakem-pakemnya yang memasung.

Seperti halnya kata toleransi yang tak pernah mereka perdebatkan konsepnya, tetapi telah menyatu dalam tata laku relasi sosial keseharian. Seni Lima Gunung hadir secara sederhana, apa adanya, dan otentik. Tumbuh dari keseharian orang-orang-orang desa. Sesuatu yang justru menjadi daya tarik turis.

seni sudra (3)Tari topeng serangga berikut ini adalah contoh menarik. Ide tari ini muncul dari keseharian warga Lima Gunung bekerja di sawah. Berhadapan dengan belalang dan wereng. Busananya pun diambilkan dari keseharian mereka. Ada yang dibuat dari batang padi, jonggol jagung, bunga pinus, ataupun daun nangka. Gerakannya pun perpaduan beragam jenis tarian, mulai jathilan, topeng ireng, soreng, hingga tari kecak Bali.

Tak lupa, mereka menyelipkan ornamen heavy metal. Namun, dari sesuatu yang sederhana, bebas, dan tak mengawang-awang itu menjadi luar biasa di mata publik kota dan internasional, dan juga media. Jangan pernah bertanya apa makna dari tari-tarian ini kepada mereka. Karena, jawaban yang akan mereka sampaikan tunggal: yang penting bahagia dan bergembira bersama

seni sudra (2) Bukankah seni semestinya berfungsi layaknya agama, memberi petunjuk untuk menempuh jalan bahagia dari kenyataan-kenyataan hidup yang rumit dan sulit dijelaskan? Dan dalam hal itu orang-orang gunung sudah jauh melangkah meninggalkan perdebatan konsep dan pemaknaan. Mereka mencipta dan mengolah, namun tetap memiliki atas apa yang mereka buat.

Mereka melakukan strategi counter budaya, tanpa harus menjadi chauvinist-chauvinist ataupun fanatikus budaya. Sesekali mengejek kemapanan dan kekakuan orang-orang kota serta situasi politik kekinian, tanpa menjadi partisan. Globalisasi tak bisa dilawan, namun bukan berarti segalanya harus diserahkan kepada bergulirnya zaman.

Caranya, terus mencipta dan mengkreasi seni-seni yang memberi bahagia. Karena, tanpa bahagia, seni tak ubahnya janji politisi. Tampak agung dan manis, namun pahit, mengecewakan, dan amis. (naskah dan foto: Mohamad Burhanudin/editor: HPY)