ATIEQ SS LISTYOWATI; Latihan Membaca Kehidupan Lewat Performance Art

Mulanya ingin sekadar tahu, tapi malah ‘kecemplung’. Itulah Atieq SS Listyowati sekarang di dunia performance art. Terjun basah sejak 1999, Atieq kini ibarat orang yang ‘linu-linu’ badan dan hatinya kalau tak melakukan performance art (seni performa). “Bagaimana ya, setelah melakukan performance art itu rasanya lega. Lahir batin enteng banget. Seperti menjadi terapi jiwa buatku,” katanya.atieq-6

Makanya saat ber-performance art, ia serasa ‘hidup’. Paling tidak, keresahannya akan sesuatu bisa ia ungkapkan dengan sebuah cara yang dipilihnya. Yang paling baru di tahun 2016, arek asli Suroboyo kelahiran 10 September 1964 itu akan menggelar performance art berjudul ‘Penti’ di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta, Minggu, 18 September 2016, pukul 15.00-16.00. Penampilan yang tak berkarcis alias gratis itu entah sudah ke sekian buat Atieq.

Seperti dalam ‘Penti’, jurnalis tulis, radio dan foto ini terinspirasi dari budaya Indonesia Timur, khususnya Desa Wae Rebo, Suku Manggarai, di Flores. “’Penti’ yang aku konsepkan sendiri itu artinya seperti hijrah atau perpindahan ke tahun/awal yang baru. Seperti konsep Natal sekaligus Muharram ke Syawal. Selalu ada upaya pergantian dari lama ke baru, kelahiran baru. Intinya hidup itu harus diruwat, dibersihkan, jadi semangat harus baru,” terangnya.

Bagi Atieq, performance art adalah bagian hidupnya. Ia sudah siap segalanya. Tengok saja kiprah Atieq yang tak hanya terima menjadi performance artist, tetapi ia melakukan riset, dan telah/akan membuat buku hasil pengamatannya tentang performance art. Menanggung risiko dicap segala sebutan terjelek pun sudah Atieq niati demi kecintaannya pada seni performa yang tergolong sedikit peminat.

Namanya saja cinta. Atieq tertarik pada seni performa karena ia bagaikan perjalanan jiwa bagi seseorang (baca; seniman) dalam memahami hidupnya. “Performance art itu seperti migrasi burung yang terbang jauh sepanjang waktu, yang tidak dapat dihentikan dan membuat beberapa kreasi dan asimilasi di setiap tempat, termasuk bentuk-bentuk baru dan perspektif lain,” kata pendiri AppreRoom pada 1998, sebuah lembaga non-formal lembaga non-profit yang mengorganisir program pelatihan jurnalis seni dan lain-lainnya itu.

Selagi menyiapkan diri untuk pentas ‘Penti’, kepada PADMAgz, Atieq bicara luas tentang dunia performance art yang belum banyak dipahami oleh pecinta seni di Indonesia.

Selamat atas performance art-nya besok Minggu, semoga sukses. Bisa cerita dulu ide awal mementaskannya?

Saya cerita dulu awalan bangetnya ya. Kebetulan venue sedang bergerak mengembangkan tema Indonesia Timur. Saya langsung putar ide, ketemulah tentang Penti. Penti merupakan tarikan benang merah filosofi dasar tentang hubungan manusia dan alam semesta yang perlu dijaga keharmonisannya, sekaligus pengingat betapa luhur dan panjang kekayaan batin manusia Indonesia di belahan Timur Indonesia. Untuk melengkapinya tentang Penti, aku juga googling, sowan dulu mohon petunjuk, hahaha. Ditambah kebetulan aku sudah beberapa kali ke Flores. Jadi, beranilah ambil tema ini.

atieq-posterKalau tentang Penti sendiri di daerah asalnya sebenarnya apa?

Bagi masyarakat Wae Rebo, Suku Manggarai di Flores, Penti merupakan tradisi yang wajib dilestarikan karena mengandung keluhuran nilai sebagai ucapan syukur kepada Tuhan dan leluhur atas hasil panen sekaligus merupakan wahana rekonsiliasi dan rajutan tali perdamaian antar warga.
Penti adalah salah satu ritual masyarakat di Indonesia Timur sekaligus representatif/cerminan budaya Indonesia.

Itu pengingat bahwa masyarakat di seluruh kawasan Nusantara adalah sesama saudara se-tanah air yang wajib untuk saling menghargai, mendukung, membantu satu sama lain menuju kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik. Penti itu juga ucapan syukur. Kalimatnya berbunyi; “penti weki-pe’so ke’so reca rangga-wali ntaung; na’a cekeng manga curu cekeng weru.” Itu semacam ucapan syukur dari penduduk Desa Wae Rebo kepada Tuhan dan para leluhur karena telah berganti tahun, telah melewati musim kerja yang lama dan menyongsong musim kerja yang baru.

Jadi intinya?

Puitiknya sih begini; seperti menarik benang merah di bentang timur taburan zamrud khatulistiwa lalu melilitkannya ke seluruh tubuh agar kita tak pernah lupa bahwa darah kita adalah sama.
Ini performance art yang ke berapa bagi Anda?

Waduh, aku nggak pernah menghitung yang ke berapa ya? Karena bukan hitungannya yang jadi tujuanku. Bukan kuantitas misiku.

atieq-1
Berjudul As Soon As Possible di Universitas Negeri Jakarta, yang digelar Rewind Art dalam Festival Performance Art #14 bertema Pancaroba. (1)

Maaf Mbak Atieq, performance art bagi masyarakat umum termasuk tak banyak dipahami. Nah bisa tidak menjelaskan apa itu performance art.

Gini, seperti ‘Penti’ itu bukan performing art atau seni pertunjukan biasa. Ini namanya performance art. Beda banget lho ya dengan performaing art. Itu sebuah term yang digunakan khusus pada bentuk tampilan yang sifatnya spontan. Nah seperti nanti saat aku menyuguhkan ‘Penti’, ya tak ada latihan dulu sebelum manggung. Performance art itu sifatnya fleksibel, bisa di mana saja. Contohnya Melati Suryodarmo pernah diseret kereta kuda di sebuah taman di Spanyol. Di sungai juga bisa contohnya Tisna Sanjaya dkk di Bandung. Marina Abramovic karya-karya performance art-nya malah dipakai Bjork dan Lady Gaga. Ia juga pernah feat dengan rapper Jay-Z.

Bagi yang tak paham performance art, kadang bingung apakah ada maksud seniman itu melakukannya. Nah perlukah seniman punya maksud melakukan performance?

atieq-2
Berjudul As Soon As Possible di Universitas Negeri Jakarta, yang digelar Rewind Art dalam Festival Performance Art #14 bertema Pancaroba. (2)

Punya maksud dan ada pesan itu harus meski kadang yang paham cuma si senimannya. Kalau aku yang melihat tak paham tidak penting, yang pasti aku sudah menyampaikannya. Kalau aku sendiri kali pertama melakukan performance art malah di negeri orang lain. Aku beranikan menyinggung tentang keberadaan orang Jawa di Singapura. Mengambil tempat di Merlion Park, Singapura, dengan judul ‘Take a Picture of Me, Please’ aku mengingatkan diri kalau aku ini orang Jawa kok malah jadi turis di situ. Padahal sejarah Singapura itu berasal dari Jawa. Jadi kan aneh, wong Jowo kok jadi turis di tanah leluhur wong Jowo. Aku pakai kain dan kemben sebagai simbol wong Jowo. Kritikan itu juga pernah aku lakukan dengan memakai konde dengan wajah berbedak warna emas silver. Aku pakai kain dan membawa kamera besar lalu keliling foto-foto. Berjudul ‘I Am Celebrating My Country’, aku berjalan kaki tanpa alas kaki berawal di depan pagar KBRI yang sedang upacara bendera. Mereka hormat aku juga ikut hormat grak, hahaha. Lalu aku jalan kaki menuju Orchard Road sampai masuk MRT, naik kereta tanpa alas kaki (nyeker). Naik bus kota, turun lagi, nyeker terus sampai sore. Aku lakukan itu sampai lelah. Semua ada maksudnya.

Bagaimana sih  awalnya Mbak Atieq menekuni performane art?

atieq-8
Berjudul As Soon As Possible di Universitas Negeri Jakarta, yang digelar Rewind Art dalam Festival Performance Art #14 bertema Pancaroba. (3)

Aku ini sebenarnya kecemplung (terlanjur), padahal awalnya cuma coba-coba. Kan sebetulnya aku ini observer khusus performance art di Indonesia. Cuma akhirnya malah jadi pemain. Saat pertama kali main di Singapura itu saja aku malah masih bingung dengan istilah performing art dan bedanya dengan performance art. Aku cari di kamus ya nggak ada artinya. Tanya siapa saya nggak tahu termasuk Mbah Google kan juga belum ada, hahaha. Kalau pun ada yang bisa saya tanya jawabannya sama nggak tahunya. Para performance artist yang duluan melakukannya rata-rata mengaku, cuma seneng jadi pelakunya saja.

Rasanya ‘kecemplung’ bagaimana?

Ya asyik. Tapi aku juga tetap serius melakukan pengamatan tentang performance art sejak 2005. Malah sudah aku terbitkan bukunya berjudul ‘Sejarah Performance Art-Sebuah Introduksi’ pada 2010. Itu hasil suntingan dari paparan observasiku kurun 2005-2006. Kalau mau baca lengkap paparan atau deskripsinya, ada di blogku http://sslistyowati.blogspot.co.id. Sebab bukunya sudah lama habis dan belum dicetak lagi menunggu sponsor, hahaha.

Setelah terjun langsung apa saja yang sudah Anda suguhkan pada publik?

Saya cerita dulu yang di Indonesia ya. Pada 2006 aku menyelenggarakan berbagai kegiatan seni performa di Indonesia, misalnya: Bird Migration (Apa itu Performance Art?) di Bentara Budaya Jakarta dan IIPAE2006: Birds Migration di Galeri Nasional Indonesia. Pada 2007 aku menyelenggarakan ASEAN/Aksi: Occupying Space di Galeri Nasional Indonesia-Jakarta dan Lombok. Pada tahun yang sama aku tampil di :undisclosed territory #3 di Padepokan Lemah Putih Solo dan residensi artis di Jatiwangi Art Factory, di Studio Rosid di Bandung, di Eloprogo Art, Desa Bejen-Borobudur sebelum melakukan kerjasama dengan 7 perempuan artis beberapa negara (penari, seniman visual, skulpturis, pelukis, dalang &performance artist internasional dalam proyek Kemana Pun di LIP (Lembaga Indonesia Perancis), Yogyakarta. Pada 2009 aku menggelar A Face of Nations acara seni performa internasional di CCCL (Pusat Kebudayaan Prancis Surabaya. Pada pertengahan Oktober aku gelar lagi berupa seni puisi-performa Festival Kata dalam Performa di Bentara Budaya Jakarta. Pada 2011 di Bentara Budaya Jakarta aku menggelar performance art bertajuk Sono Lumiere dan di Institut Francais Indonesia, Bandung pada 2012. Hingga 2014 kupakai kostum lampu yang dipadu dengan sistem decoding dari cahaya menjadi suara melalui kolaborasi dengan sound artist. Dengan kaos lampu lagi, aku mengambil tampilan Atsuko Tanaka dari kelompok Gutai Jepang di tahun 60-an. Tahun berikutnya 2013 juga, setelah kolaborasi wayang beber dan sound art di Bentara Budaya Jakarta.

Wah total sekali. Kalau performance art yang Anda lakukan di manca?

atieq-4
Atieq bersama Natalie Avigdor (Sävast/Jerusalem) (1)

Pada 2005-2006 aku mendapat grant dari Arts Network Asia (ANA) melakukan observasi sejarah seni performa dan manajemennya di Indonesia, Malaysia dan Singapura. Ini jadi awal pembelajaran dan pemahamanku dalam performance art sebagai genre. Pada 2007 KHOJ Studio, aku diundang untuk residensi selama 6 minggu di New Delhi serta performance. Lawatan ini berlanjut hingga 2 bulan berkat dukungan KBRI New Delhi. Aku juga sempat mendapat undangan memberikan workshop dan performance di Departemen Seni Lukis-Visva Bharati di Santiniketan, Bengali Barat. Tahun 2008, aku dapat undangan lagi dari NIPAF untuk melakukan pertunjukan di 4 kota (Tokyo-Kawaguchi/Saitama-Moriya/Ibaraki-Nagano). Tahun 2010 aku menyelenggarakan ‘Ohayyo!… Apresiasi Kata, Performa & Makna’, sebuah kolaborasi antara seni performa dan wayang beber di Newseum yang difasilitasi program Jak-Japan Matsuri, 27-29 September 2010. Aku tampil di Swedia (Umea) dan sekaligus melakukan observasi kegiatan kelompok performance art (PAiN) di beberapa kota Norrbotten (Swedia Utara). Kesempatan sebulan ini aku gunakan untuk melawat ke Helsinki, Finlandia dan Stockholm untuk menghadiri seminar performance dan even-even internasional di genre performance art.

Rasanya cuma senang ya yang Anda dapat sebagai performance artist?

atieq-3
Atieq bersama Natalie Avigdor (Sävast/Jerusalem) (2)

Wah siapa bilang. Aku sudah kenyang hal-hal yang tak enak, mulai dari awam, sampai komunitas performance artist sendiri. Dibilang gila juga pernah. Itu yang bilang seorang redaktur lewat tulisan saya yang dieditnya. Tulisanku dimuat beberapa episode di koran daerah Jateng, oleh redakturnya ada judul yang diganti menjadi; ‘Apa Beda Performance Artist dengan Orang Gila.’ Wuaahhhhhahaha, nggak apa-apa deh mungkin memang beda tipis.

Kapan masa-masa tak enak itu?

Kira-kira tahun 2005-2006. Itu tahun yang luar biasa karena banyak anugerah sekaligus musibah. Ada SMS sampai email berisi caci maki dan fitnah yang dimasukkan di mailing list seluruh dunia. Aku ingat sekali satu kejadian karena sedang menunggu alm bapak yang sedang sakratul maut. Saat-saat begitu ada SMS dari seseorang performance artist yang sudah kenyang berkeliling dunia, isinya cuma makian. Tapi ada harunya terjun di dunia ini. Menjelang festival performance art bertajuk IIPAE 2006, bapak meninggal. Tapi karena aku mencintai duniaku, rasa berduka itu aku tinggalkan untuk mengurus festival itu sampai sukses.

Dari sekian pengamatan Anda tentang perkembangan performance art di manca lalu melihat kondisi di Indonesia, apa kritiknya?

Wah, kalau kritik tentang performance art, banyak sekali. Paling nomor satu adalah wacana.

Kenapa?

Banyak performance artist tidak pernah sinau (belajar) apa itu performance art. Wacananya dangkal, cenderung percaya pada yang senior. Padahal yang senior ya belum tentu berwacana luas. Malah ada kecenderungan jadi ‘ndoro’, butuh massa sehingga banyak sekali fitnah yang beredar. Sebaliknya yang berwacana bagus, beriktikad baik malah dikacaukan, disingkirkan, dijebak dsb.

Ada persoalan serius yang Anda lihat kah dari pengalaman menekuni performance art ini?

Kalau bicara Indonesia ya tentang pendidikan, terutama pendidikan seni. Itu masalah dasar kita. Pendidikan belum merata, ya jadinya begini inilah. Beda dengan di Singapura, anak-anak SMA sudah jelas pengetahuannya apa, standar. Nah, pendidikan kesenian kita masih acak kadut. Yang jadi korban masyarakatnya, akhirnya tidak terjadi sinergi. Kemendikbud adalah korban utama dari kekacauan sistem pendidikan para pemegang kekuasaan yang sesungguhnya di negara ini.

Kalau pelajaran dari luar negeri apa?

atieq-bukuSaat ke beberapa negara, aku lihat langsung kalau performance art ini justru jadi semakin menarik. Ternyata beban lokal setiap negara, daerah selalu jadi bahan utama. Jadi seperti jurnalisme, performance art dilakukan seperti membaca koran tiap hari. Jadi aku tahu persoalan tiap negara itu apa dari performance art yang dilakukan para senimannya. Semua pengamatanku itulah yang akan aku tulis lagi dalam buku-buku terbaruku seputar performance art. Mudah-mudahan bisa terbit tahun ini juga.

Mengapa masih tertarik menulis buku tentang performance art lagi?

Soalnya buku-buku khusus tentang performance art dalam bahasa Indonesia masih belum nemu tuh. Jadi ya aku susun sendiri saja biar segera gampang ditelaah. Meskipun aku harus rajin cek dan ricek. Tiap membaca harus studi komparasi. Saya paksakan diri membaca buku lain sebanyak-banyaknya. Karena validitas data itu kadang fleksibel dan dinamis. Harus disadari bahwa setiap paparan adalah hasil perspektif si penyusun. Meskipun berlaku objektif, tapi tetaplah ada sudut subjektifnya. Makanya aku rajin jadi ‘komporist’ sejati, menyemangati siapapun untuk bikin penelitian atau pengamatan sendiri yang langsung dibukukan. Ini supaya makin banyak wacana dan proses dialektika berjalan manis dan sehat. Tidak sekadar mengkritisi tapi tidak ada data valid untuk berargumentasi. Akhirnya debat kusir, maki-makian atau ya sekadar koar-koar doang.

Apa yang membuat Anda tetap terjun di dunia ini?

Ya ternyata yang antusias tentang performance art ini tidak cuma aku. Pas aku mulai keliling lecture lagi sejak 2015, banyak mahasiswa S1, S2 dan S3 mengambil tema skripsi/disertasi/tesis tentang performance art. Lucunya, ada yang baru tahu sosokku mencium tanganku lama banget sambil minta maaf kalau banyak mencontek atau copas (copy paste) dari tulisan-tulisanku di blog. Lha aku malah senang dong dibaca. Tapi aku selalu tekankan untuk cek dan ricek terus, jangan percaya begitu saja dengan paparanku. Selain itu, aku lihat yang notabene anak-anak muda ini performance art-nya jauh lebih matang, berwacana. Para performance artist muda ini lebih berkonsep, berkarakter. Aku senang.

Masih ingin lanjut terus kira-kira di dunia ini?

Ya iya dong. Ini buatku pengembaraan (traveling). Kalau performance art itu membuat aku hidup dan traveling terus ya akan aku lakukan terus. Kan hidup itu pengembaraan, jadi aku mengembara terus dengan melakukan performance art. Itu ruang seni buatku. Itu salah satu medium untuk aku bereksplorasi yang tak pernah berakhir di era apapun selama peradaban manusia masih ada, karena seni membawa sejarah keberadaan manusia.

atieq-7
Atieq bersama seniman muda Surabaya

Bisa diperjelas lagi makna performance art sebagai traveling?

Orang hidup yang tidak mengembara ya berarti belum hidup. Belum ada kehidupan yang sejati dalam kehidupannya. Karena dalam pengembaraan, akan kita temui banyak sekali pelajaran tentang kehidupan. Kenapa harus mengembara? Apa tidak cukup mempelajari hal di sekitar saja? Tentu saja belum cukup. Karena mempelajari hal di sekitar saja terkadang malah membuat titik sudut pandang kita statis, hanya dari satu kacamata saja. Sementara jika kita mengembara, akan semakin banyak keindahan batin yang tertangkap. Karena kita jadi tahu cara menempatkan titik sudut pandang ke berbagai arah. Sehingga kita mampu meletakkan diri kita secara fleksibel. Kemampuan pandang yang semakin meluas ini akan mengarahkan kita pada kreasi-kreasi baru, ide-ide baru, kemungkinan-kemungkinan baru, plus langkah-langkah baru. Kita akan makin mempelajari alam dan seisinya. Kalau aku ya lewat performance art.

Setelah menekuninya puluhan tahun, apa yang ingin Anda share tentang performance art agar pembaca makin paham?

atieq-i-am-u-u-r-me
Judul I Am U U Are Me

Performance art merupakan genre seni kontemporer yang sangat padat sejarahnya. Aku saja belum selesai mempelajarinya dan bahkan semakin ingin tahu kemana genre ini akan menjadi. Aku hanya melihat bahwa ‘seni performa’ ini sebetulnya adalah medium katarsis, ekstasi dan sublimasi bagi pelakunya. Ingin meraih pemahaman tertinggi di luar dirinya. Seperti halnya ritual ‘thaipoosam’ di India atau ‘tatung’ di Singkawang. Para pelakunya menusuk kulit, lidah, tubuh, tangan dsb sebagai upaya pembersihan jiwa (ruwatan). Terlihat keras, radikal, ekstrem, namun niatnya adalah ritual, upacara rohani. Hanya saja hal ini tidak banyak yang mengakui. Apalagi dari Barat. Mereka menganggap aksi-aksi mereka adalah bentuk ketidakpuasan mereka atas kondisi yang dihasilkan oleh kaum fasis yang berkedok pada perang untuk perdamaian dunia. Setiap performance artist mengangkat hal banal. Keindahannya terletak pada pesan yang ingin disampaikan, bukan aksi kekerasan yang diperlihatkan. The beauty is beyond the text. Sangat estetik.

Terakhir, apa arti performance art buat Anda?

Buatku, performance art adalah jurnal kehidupan. Jurnalisme. Sekaligus pelatihan iqra; latihan membaca kehidupan. (naskah: Heti Palestina Yunani/foto: Atieq SS Listyowati/Heti Palestina Yunani)