Festival Holi; Asyiknya Melempar Tepung Tersuci (2)

holi 2Tepat di hari Festival Holi, saya terbangun saat matahari masih malu-malu untuk menampakkan wajahnya. Pagi itu, rasanya saya sudah tidak sabar melempar tepung warna-warni. Saya sengaja belum membeli tepung warna-warni karena katanya membeli pada hari H pasti lebih murah.

Untuk festival, saya menyiapkan diri dengan baju putih dan celana putih. Tidak lupa membawa tas kedap air untuk menyimpan kamera, dompet dan smartphone. Saya bergegas turun dari tangga menuju pintu keluar hostel. Rasanya saya suka cita karena ingin segera menikmati Holi.

Baru kaki kanan saya melangkah melewati pintu tiba-tiba tangan petugas hostel sudah menyapukan tepung warna merah muda di wajah saya. Oh, rupanya Holi sudah dimulai. Meski saya terkejut tapi itu membuat saya tersenyum.

Tampak di sana, beberapa orang lain penghuni hostel ini sudah menjadi korban. Teman baru yang sudah tercoreng-moreng itu langsung saya ajak untuk ke tengah kota. Kami sepakat merasakan sensasi lemparan tepung warna-warni bersama-sama.

holi2-Gajah dan festival holi
Gajah-gajah berhias di Festival Holi

Dalam festival yang menandai datangnya musim semi dan sebagai tanda berakhirnya musim dingin itu penuh lemparan tepung warna-warni, air dan tarian. Di Jaipur, biasanya ada yang khas di mana gajah akan dilukis dan diberi gelang bergemericik.

Semua orang yang terkena tepung berwarna rata-rata sih berteriak senang. Sebaliknya mereka akan balik melumuri tubuh orang lain yang ada di dekatnya. Ritual ini disebut dengan istilah DhulhetiDhulandi, atau Dhulendi.

Dalam ritual tahunan itu, tepung warna-warni dianggap sebagai media penyuci dosa oleh umat Hindu. Warna tepung yang paling sakral atau suci adalah warna merah muda yang melambangkan keramahan. Semua orang akan berkumpul di jalan-jalan dan saling melempar tepung warna itu, kemudian berdoa.

holi2-Menari bersama saat holi
Menari bersama saat Holi

Semua orang dapat ikut berpartisipasi, tidak ada batasan kasta atau jabatan. Semua sama, satu dalam doa dan kebahagiaan murni. Setelah acara saling melempar tepung warna, kemudian mereka akan saling menyiram air. Saling siram air ini bertujuan untuk menghapus dosa.

Saya pun juga bersiap dengan membeli berbagai warna tepung seharga Rs 20 setiap kantong. Asyiknya, saja tidak sendiri lagi di hari itu. Ada beberapa orang yang saya temui di jalan, dua orang wanita dari Bangkok dan Hongkong serta dua orang pria dari Gujarat dan Bangladesh.

Kami pun berbaur dalam kerumunan masyarakat India. Mereka tiba-tiba menyerang kami dengan brutal untuk mengoleskan tepung warna-warni ke seluruh tubuh. Saat begini, jangan pernah membuka mata, mulut atau berkata-kata, karena tepung tersebut bisa masuk ke dalam mata dan mulut.

‘Happy Holi’ merupakan kalimat permohonan maaf sekaligus izin untuk mengoleskan tepung. Biasanya mereka akan langsung menyalami dan memberikan pelukan. Biasanya saat merayakan holi akan ada titik-titik tempat berkumpul masyarakat. Sembari melempat tepung musik berbunyi keras dan masyarakat menari-nari bahagia.

Kita juga perlu waspada karena biasanya juga ada beberapa yang mabuk. Kita juga mesti awas dengan lemparan air tiba-tiba. Entah itu langsung atau dari pengendara kendaraan bermotor. Terkadang anak-anak dari gang sempit akan datang menyerang bergerombol dengan tepung dan tembakan senapan air.

holi2-wanita india dengan sari dan penuh warna saat holi
Wanita india dengan sari dan penuh warna

Pengambilan gambar dengan kamera dan smartphone sebenarnya cukup sulit. Saya mesti berhati-hati kalau tidak mau tersiram air atau tepung dan kemudian rusak. Anehnya, dalam perayaan Holi, cukup sulit menemukan perempuan lokal ikut festival.

holi2-menghindari kerumunan dan bersembunyi didalam kuil
Dua wanita menghindari lemparan tepung dengan bersembunyi di dalam kuil

Saya sendiri selalu mengambil foto dari jauh, tidak berani terlalu mendekat. Saat menemukan wanita lokal bersari dengan penuh tepung membuat saya bersorak gembira dan meminta untuk mengambil gambar.

Satu hal lagi, tidak semua orang merayakan Holi, kita mesti melihat terlebih dahulu dengan seksama sebelum melempar tepung warna-warni karena tidak semua orang India beragama Hindu. Jika sudah lelah, lari saja menuju kuil karena di sana biasanya akan dilarang melempar tepung warna-warni.

Kami berlima dari berbagai negara sangat menikmati semua itu. Kami bahkan terus menyusuri jalan raya dan titik-titik keramaian hingga lelah dan lapar. Saat itulah kami mengakhiri semuanya dengan senyuman dan bahagia. Lalu membayar rickshaw untuk mengantar ke tempat makan dan kembali menuju hostel.

Saat selesai mandi tidak semua warna akan hilang di wajah. Biasanya ada beberapa warna yang melekat kuat hingga 2-3 hari di kulit. Baju dan celana yang digunakan pun sudah pasti susah dibersihkan karena warna akan terus melekat.

Tapi semua itu terbayar dengan kebahagian. Impian saya beberapa tahun untuk merasakan langsung festival ini lunas. Apapun yang sudah saya lewati semuanya menghadirkan kenangan indah. (naskah dan foto: Dony Prayudi/Heti Palestina Yunani)