ARDHIA TRI ANDANI PUTRI; Hadiah Romantis dalam Sebungkus Kopi

ardhia (7)“Begitu membuka bungkus Cerita Kopi, orang mungkin terkejut dengan ‘hadiah’ yang saya bawa di dalam kemasannya,” terang konseptor Cerita Kopi, Ardhia Tri Andani Putri. Hadiah apa? Seberapa terkejut? Dani, panggilan Ardhia, bicara ceria tentang brand kopi yang diproduksinya itu bersama Padmagz, suatu sore.

Tentang Cerita Kopi, memang ada cerita dan kopi. Itulah cara Dani membuat ‘sentuhan’ beda pada produk kopi yang diproduksinya. Tak dipungkiri sudah banyak orang yang menjual kopi apalagi menyajikannya. Selain yang masih mentah berupa biji dan gilingan dalam kemasan rupa-rupa, kedai, cafe atau warung sudah bersaing menawarkan kopi pada coffe lovers yang kian berselera tinggi.

Maka sebagai pendatang baru di dunia kopi atau setidaknya di bisnis kopi, Dani ingin mengenalkan cara mendapatkan kopi atau meminum kopi dengan sedikit berbeda. Dari sekian cara, Dani memiliki konsep yang dirasanya punya daya pikat spesial; Cerita Kopi diberinya ritual tambahan dengan cerita sebagai teman minum kopi. Jadilah cerita dan kopi; Cerita Kopi.

Kalau bungkus produk Cerita Kopi dibuka, tak hanya ada bubuk kopi harum yang dibau, tapi kastamer Cerita Kopi mendapatkan juga sebuah cerita. Memang sih kastamer harus sedikit meluangkan waktu untuk membaca. Jadi saat mencecap rasa kopinya, bisa sambil membaca cerita-cerita yang disuguhkan. “Di dalam kemasannya, ada selipan macam catatan kecil. Di situlah saya bercerita pada Anda,” kata karyawan sebuah media televisi itu antusias.ardhia (3)

Lahirnya tawaran cerita dalam Cerita Kopi muncul dari kenangan Dani akan masa kecil. Tidak ada hubungannya tapi Dani terkesan untuk menerapkannya sebagai strategi pasar kopi yang begitu kian kreatif. “Saya teringat ketika kecil membeli snack ringan penuh vitsin, ketika dibuka tiba-tiba ada hadiahnya. Bisa jadi dulu bukan nya yang diburu tapi hadiahnya meski tak seberapa,” kenang ibu satu putra ini.

‘Hadiah’ kecil dalam kemasan itulah yang Dani ambil untuk mengemas Cerita Kopi. Tapi sesuai hobi Dani yang penghobi berat baca buku dan menikmati cerita, ia membawa cerita dalam kopinya. Bisa jadi penikmat Cerita Kopi lebih menunggu cerita yang dibagi Dani. “Buku ceritanya bisa dibaca sambil minum kopi, jadi serasa memiliki teman minum gitu deh. Seperti saya, cerita yang saya baca jadi teman ngopi paling oke,” terangnya.

Karena setiap boks memiliki cerita yang berbeda, tergantung dari keberuntungan boks mana yang pembeli dapatkan maka di situlah keterkejutan penikmat Cerita Kopi. Sementara, cerita yang disertakan dalam Cerita Kopi ada empat macam cerita berupa cerita pendek. ardhia (5)

Cerita-cerita itu ditulis Dani dan dua penulis cerpen ternama Jawa Timur. “Ada “Kisah Cinta dan Anjing Betina” karya Adkil Mutakin, “Seteguk Kopi Pahit” karya R Giryadi, dan dua dari saya judulnya “Bintang Kejora” dan “Perempuan dalam Kafe,” katanya.

Cerita-cerita itu ada dalam kemasan kopi seberat 100 gram (original) yang dibandrol hanya Rp 37 ribu. Sementara untuk kopi (klasik) 100 gram dibandrol Rp 65 ribu. Kopi diolah dari petani kopi di Jember. Biji kopi yang dipilihnya berjenis excelsa, jenis kopi yang belum banyak dinikmati.  “Dibandingkan dengan kopi robusta atau arabica, excelsa memang lebih jarang dinikmati,” katanya.ardhia (6)

Dani sendiri sebenarnya tak tahu tentang jenis kopi sebelum terjun berbisnis kopi. Memang ia akui mengenal kopi sejak kecil mengingat ayahnya peminum kopi. “Jadi waktu Bapak dibikinkan kopi oleh Ibu, aku juga ikut minum sampai habis tanpa tahu itu kopi jenis apa atau apa yang ternikmat. Hanya jika ada kopi Bapak, aku minum,” terangnya.

Meski bukan pencinta kopi yang sungguh-sungguh seperti ayahnya, saat ini minum kopi bagi Dani sudah menjadi bagian kebiasaannya setiap harinya. Setidaknya dua gelas sehari bisa ia minum. “Kalau tak bisa ngopi ya nggak masalah. Tak harus ngopi seperti kecanduan,” katanya. Hanya saja ia tahu kini jika taste kopi yang sedikit masam seperti kopi Bali lebih ia sukai.

Karena menghadiahkan cerita, Dani mengaku memang tak mudah menghadirkan rasa kopi yang elegan dengan harga pantas. Ada tantangan misalnya tak semua penikmat kopi adalah penikmat cerita atau sebaliknya. “Tapi saya tahu penikmat kopi itu seleranya tinggi termasuk dalam tradisi membaca. Jadi mereka kalau dibarengi dengan ritual membaca cerita (baca; karya sastra) mereka bisa menerima,” katanya.

ardhia (1)Dari pengalaman Dani menjual kopi sejak launching 5 Juli 2016, para pembelinya rata-rata adalah penikmat kopi yang ingin bereksperimen tak hanya pada sentuhan rasa kopi yang berbeda. Tetapi juga tentang cara minumnya termasuk sambil membaca cerita.

Kastamer kopi Dani ini, di antaranya membeli karena tak cuma ingin merasakan kopi excelsa, tapi juga ingin memperoleh rekreasi murah dari cerita romantis Cerita Kopi yang dibaca. “Kadang bukunya bisa dibaca ulang tanpa mencecap kopinya kok,” terang mantan reporter Bisnis Surabaya ini.

Itulah menurut Dani ada keunikan dan sensasi pada kopinya dengan ajakan meluangkan waktu membaca cerita. “Pikir saya penikmat kopi itu sensitif juga dengan aneka ‘rasa’. Cerita dalam kopi saya ini penuh ‘rasa’ juga, di antaranya rasa romantis kali ya,” ujarnya.

Sejak menjalankan bisnis kopi, Dani mendapatkan arti baru tentang cara rekreatif yang murah lewat kopi. “Cerita-cerita dalam Cerita Kopi itu seperti mengajak siapa saja berimajinasi ke mana-mana, itu kan salah satu cara ‘travelling’ asyik lewat ngopi,” tegas Dani yang sering menikmati traveling tak sengaja saat menjalankan tugasnya sebagai reporter.ardhia (4)

Untuk membangun pasar, Andani mencoba model penjualan secara langsung melalui media sosial. Selama ini orang-orang yang Dani kenal dalam jaringan hubungan sosial di dunia maya dan nyata sudah menjajal kopi dan cerita Dani. Di antaranya teman-teman Dani yang sekaligus menggemari buku.

“Kalau ingin melakukan pemesanan bisa langsung menghubungi instagram @ceritakopiku dengan admin Ekha atau melalui instagram @ardhia_tap dengan admin Andani. Jadi kalau ingin menikmati kopi sambil aku bercerita, mengapa tak memesan Cerita Kopi?,” tawarnya manja. (teks: Heti Palestina Yunani/foto: koleksi pribadi Ardhia Tri Andhani Putri/editor: HPY)