Âr Kŏn, Cambodia by Puput Palipuring Tyas

Keringat mengucur deras disusul pening yang membebat. Betapa aku selalu takut akan gelap, yang memungkinkan diriku dimangsa makhluk-makhluk jahat. Mengapa aku harus senekat ini berjalan jauh seorang diri di malam hari? Padahal siapapun tahu, negeri ini memiliki sejarah kelam yang menghabiskan hampir separuh jumlah penduduknya. Bisa jadi, sisa-sisa rezim itu masih berdiam di gang-gang sempit yang jarang dihuni.

Bulu kudukku meremang membayangkan pembantaian kejam yang terjadi puluhan tahun silam. Cerita guru sejarahku kembali terngiang. Para cendekiawan hingga bayi-bayi tak berdosa menjadi korban dengan penyiksaan yang tak lebih kejam dari binatang.

Kedua kakiku hampir lemas berjalan menyusuri gang-gang sempit dan gelap mencari jalan pulang ke penginapan. Ah, kemana perginya para turis yang biasa memadati jalanan di kala siang? Tak seorangpun kujumpai batang hidung warga asli maupun pendatang. Tangis sudah mengambang di pelupuk mata demi rasa takut yang semakin jalang…

***

Dalam seburuk-buruknya keputusan menurut orang lain, selalu ada pelajaran berharga untuk diambil. Marulli serta beberapa sahabat tak sanggup menghalau tekadku yang sudah bulat untuk pergi meninggalkan hiruk pikuk Surabaya beserta kenangan buruk yang ada di dalamnya. Aku terbuang dari tempatku bekerja hanya karena ambisi seseorang yang menganggapku sebagai saingan. Kemudian, seperti semesta menghukum saat kutemukan calon suamiku membatalkan pernikahan secara sepihak. Undangan yang terlanjur disebar, gedung yang terlanjur dibayar, serta catering yang terlanjur dipesan tak sebanding dengan rasa malu yang harus kutelan.

“Kamboja,” ujarku pada seorang kawan yang bekerja pada sebuah biro perjalanan. Kulihat wajah gadis berambut ikal itu berkerut bingung.

“Kamboja?” ia membeo. “Mengapa tak memilih Thailand atau Singapura? Kami sedang mengadakan promo untuk tujuan tersebut,” lanjutnya.

“Tidak, saya tetap ingin Kamboja,” jawabku mantap.

Berbekal sekoper pakaian dan sebongkah keyakinan, aku terbang dari Bandara Juanda menuju Siem Reap, Kamboja. Negeri Norodom Sihanouk yang membuat penasaran itu kupilih untuk menenangkan diri, setidaknya untuk beberapa minggu ke depan.

Sebuah tuk-tuk yang unik mengantarku menuju penginapan yang sudah dipesan. Sepanjang mata memandang, berjejer bangunan kolonial bernilai historis tinggi berarsitektur khas China. Kudengar selain masyhur karena Angkor Wat, kota ini juga memiliki gedung pertunjukkan yang menampilkan tarian tradisional Apsara. Selain itu, pemandangan di Danau Tonle Sap kala matahari tenggelam juga sayang dilewatkan. Pun keriuhan Old Market yang dipenuhi café, pub, serta toko kerajinan telah masuk dalam daftar. Hatiku membuncah membayangkan petualangan baru di Kamboja, segala penat telah berubah menjadi nikmat.

“Âr kŏn,” kuucapkan terima kasih dalam bahasa setempat saat menerima uang kembalian dalam bentuk riel dari pengemudi tuk-tuk. Kuhitung kembalian tersebut sambil terkekeh. Lembaran dollar yang kuangsurkan tadi telah berganti kepingan riel. Memang, di negara ini mata uang dollar maupun riel sama-sama diterima.

Kuturunkan koper dan memasuki penginapan mungil yang dijaga oleh seorang wanita paruh baya. Petualangan hebat akan dimulai segera.

***

Imajinasi yang indah itu dalam sekejap langsung lenyap seiring nyali yang melesap. Jalanan gelap masih belum menunjukkan tanda-tanda kehidupan, sementara kedua tungkai telah lunglai melanjutkan perjalanan. Letak yang jauh dari pusat keramaian semula menantang nyaliku bertualang. Aku berpikir dengan berjalan kaki menyusuri sudut kota akan menemukan hal-hal unik yang susah dijumpai di pusat keramaian. Namun ternyata, pilihan tersebut ibarat bumerang. Dadaku semakin sesak membayangkan hal buruk yang siap menyerang. Sangat kusesali mengapa harus meninggalkan handphone di kamar dan pergi tanpa membawa kartu nama dari penginapan.

***

Mataku memicing karena tak sanggup menerima intensitas cahaya yang terlalu terang. Kusapukan pandangan di semua sudut ruangan tempat aku terbaring di atas kasur yang nyaman. Ini bukan kamar milikku, seketika kepalaku berdenyar, berputar-putar.

“Sudah bangun rupanya,” sapa seorang kakek membawa nampan dan meletakkan di sisi pembaringan.

“Tadi pagi istriku menemukanmu tergolek di tepi jalan saat akan berangkat ke pasar. Sepertinya kau sangat kelelahan. Jangan khawatir, kau sudah dalam kondisi aman.” Senyum ramah terulas di bibirnya yang ditumbuhi kumis berwarna kelabu. Yang sanggup kuingat hanyalah keletihanku semalam hingga tak lagi sanggup berjalan. Ternyata aku pingsan kemudian.

“Dari mana kau berasal? Dan di mana letak penginapanmu? Setelah kondisimu membaik, aku akan mengantarmu pulang.” Kakek tua itu membantuku duduk dan meletakkan sup hangat di pangkuannya.

“Indonesia. Saya berasal dari Indonesia,” jawabku terbata-bata.

“Aha! Indonesia? Jawa? Ya ya ya…”

Seraut wajah senja itu langsung sumringah seperti bertemu kawan lama.

“Negerimu banyak berjasa terhadap negeriku. Bahkan kebudayaan kita masih memiliki hubungan erat,” celotehnya riang.

Begitulah aku mengenal keluarga Kakek Mok yang ternyata seorang budayawan. Beliau bekerja sebagai dosen di Angkor University, Siem Reap.

Sambil menyuapkan sup hangat bernama Sgor Chrouk Moun padaku, dia berkisah panjang. Sup ayam khas Kamboja yang dimasak dengan berbagai macam sayuran seperti mentimun, kol dan seledri itu terasa hangat di tubuhku, mengembalikan stamina yang layu.

“Nadsa de Monteiro, koki Kamboja asal Perancis pernah bercerita dalam bukunya berjudul Cambodia on A Plate bahwa Jawa kuno mempengaruhi masakan orang Khmer.”

“Benar begitu?” Mataku berbinar.

“Ya. Selain itu, tahukah kau bahwa Raja Suryawarman yang membangun Angkor Wat pernah tinggal di Pulau Jawa Indonesia? Kemudian, Suryawarman dididik sebagai pangeran di lingkungan keluarga Raja Sailendra yang saat itu membangun Borobudur. Ketika kembali ke Kamboja dan menjadi raja, Suryawarman membangun Angkor Wat. Tak hanya itu, saat terjadi perang hebat melawan Khmer Merah, negaramu turut andil memberi bantuan. Tentara Kamboja belajar strategi peperangan di Batujajar, Bandung, provinsi Jawa Barat. Bahkan, negaramu dan negaraku juga sama-sama memiliki sendratari Ramayana meski berbeda versinya.”

Kami bercerita panjang lebar seperti sahabat lama yang kembali dipertemukan. Sesekali Kakek Mok terbahak melihat ekspresi takjub dari wajahku yang antusias menyimak ceritanya.

Kamboja, di balik sejarah hitam yang mengerikan adalah sebuah negeri yang tengah berbenah. Keramahan penduduknya menjadi jaminan bagi setiap pendatang yang butuh perlindungan. Kini, aku menemukan sebuah rumah untuk berpulang. Rumah yang bisa kupijak dan sejenak memberi kehangatan. Kesedihan telah kutinggal sejauh ribuan kilo sebab di Kamboja, tak ada rona luka selain bahagia. (naskah: Puput Palipuring Tyas-puput.poet@gmail.com/ilustrasi: nn/editor: Heti Palestina Yunani)