Anda yang Mana, Jadi Turis atau Pelancong?

“The traveler sees what he sees. The tourist sees what he has come to see.” (GK Chesterton)

wina bandung (2)Ketika dalam dua bulan saya belum naik pesawat, kereta atau kapal sekalipun, bagi saya ini merisaukan. Jam terbang seorang pelancong diukur berapa persen dia menghabiskan usianya dengan berjalan-jalan mengenali dunia. Untuk lebih tepatnya, saya mengenalkan diri sebagai pelancong, bukan wisatawan.

Seperti quote yang saya petik di atas, ada dua pengertian yang berbeda secara mendasar antara turis dan pelancong. Karena saya lebih suka disebut pelancong, maka saya segera membuka internet dan memesan tiket. Ke mana? Paling sederhana adalah, mendatangi anak saya yang kuliah di Bandung (sekarang sudah lulus). Hanya begitu saja? Tentu tidak.

Pelancong itu memiliki jiwa penjelajah. Ke mana dia pergi harus menemukan banyak hal. Bukan saja mendatangi tempat, tetapi juga mencecap rasa makanan, menikmati suasana kota, keriuhan pasar, denyut nadi ekonomi, mencari budaya, kesenian, atau sudut-sudut taman kota.

Rencana, adalah poin paling penting jika urusan utamanya adalah efisiensi waktu. Ketika saya harus tetap ada di Surabaya untuk sebuah acara arisan, menjuri lomba cerpen, dan menulis bersama dengan beberapa teman, itu semua cukup menjadi alasan agar saya tidak terlena belanja di Kota Parahiyangan. Maka jadwal pun saya buat. Day 1: makan malam enak khas Sunda dan nonton bioskop bersama anak saya.

Day 2: Kawah Putih dan sekitarnya. Malam harus mencari tempat nongkrong yang romantis, anggap saja survey lokasi buat cerpen baru. Day 3: Hahaha, shopping.  Kembali ke Surabaya, dari bandara langsung menuju TKP arisan. Sempurna? Belum! Saya tergelitik untuk ingin mengupas terjemahan quote yang saya petik di atas. Pelancong melihat apa yang dilihat. Sementara turis melihat apa yang ingin dia lihat.

Di mana letak perbedaannya? Ternyata hanya terletak pada mindset. Seorang turis yang datang pada suatu tempat karena ingin melihat atau merasakan sesuatu, ya itulah yang akan didapat secara maksimal. Tetapi pelancong, ia menyerahkan dirinya pada keadaan, pada semesta, pada kejadian-kejadian. Sehingga boleh jadi ia akan mendapatkan lebih dari apa yang dipikirkan sejak mula sebelum perjalanan ditentukan.

Sebab ia menggunakan seluruh inderanya. Melihat bukan hanya dengan mata, melainkan juga hati/rasa. Kedengarannya sih sederhana, hanya ke Bandung. Tapi lihatlah travel note saya, Bandung ternyata memiliki jutaan noktah persinggahan. (naskah dan foto: Wina Bojonegoro/hpy)