Agenda Perdana; Mengulang Pendakian Rinjani

Road Trip Nekat Mengeksplorasi Selatan Indonesia (3)

3-Si Jangkrik tiba di Pelabuhan Lembar, LombokTanpa menginap di Bali, perjalanan dari Surabaya ke Lombok terasa cepat. Saat saya tiba di pelabuhan sisi timur Pulau Bali, Padang Bai, kapal laut ASDP yang mengantar saya berangkat ke Lombok, tampak sepi.

Pukul 11.00, kapal berangkat. Waktu 4-5 jam perjalanan ke Lombok saya manfaatkan untuk istirahat. Sampai di Pelabuhan Lembar, tampak pelabuhan itu begitu rapi. Banyak bangunan baru serta renovasi di berbagai sisi fasilitas. Perubahan tampilan ini menurut saya berbeda saat saya mengunjungi Lombok tahun 2011 dan 2013.

Ini salah satu indikasi bahwa ada perbaikan fasilitas umum di Lombok. Ah andai saja Leuwi Panjang dan Cicaheum (Bandung) mengalami hal yang sama. Sore hari sekitar pukul 15.30 saya melanjutkan kembali perjalanan langsung menuju Gunung Rinjani yang memang menjadi destinasi pertama perjalanan kali ini.

Pendakian saya lakukan sama seperti tahun 2011 silam, melalui jalur Sembalun dan turun di Senaru. Rinjani begitu indah dengan jalur pendakian yang variatif, seperti di Sembalun dengan savananya dan Senaru yang tropis rimbunnya.

3-Sunset Segara AnakSelain itu, terdapat mata air panas di sekitar Segara Anak yang bisa memijat rasa pegal setelah turun dari Puncak atau Senaru. Semburat sunrise di puncak yang begitu eksotis dengan ‘tumpeng’ bayangan puncak di Segara Anak.

Itulah yang selalu membuat pendaki ingin merasakan kembali keindahan di Gunung Rinjani, seperti saya kali ini. Perjalanan menyusuri Lombok saya lakukan melalui jalur tengah, dengan beberapa kali melihat kembali peta di ponsel untuk meyakinkan jalan yang benar karena minimnya rambu lalu lintas.

Tujuan awal dari pelabuhan adalah Pasar Aikmel karena seingat saya di sana daerah terakhir yang memiliki SPBU Pertamina. Tiba di pasar sekitar pukul 17.00, perjalanan saya lanjutkan menuju basecamp di Desa Sembalun.

Jalanan mulai sepi karena menjelang Maghrib dan dingin mulai menyerang rusuk. Tanpa pikir panjang, melalui tanjakan dan turunan yang tajam maka saya tancap gas dan rem belakang sempat ‘blong’ hingga akhirnya tiba di tujuan pukul 18.45.3-Bertekuk Pada Dewi Anjani

Setiba di sana, yang muncul dalam benak adalah ‘mencari tumpangan’ untuk mendaki bersama dan berbagi tenda karena saya tidak membawa tenda demi mengurangi digunakannya rencana B; menggunakan jasa porter.

Sejak dulu Gunung Rinjani sudah menjadi primadona meski jauh dari pulau-pulau padat penduduk. Dengan akses transportasi sebelum menjadi bandara internasional, para pendaki rela menempuh perjalanan panjang demi melihat keelokan gunung berketinggian 3726 mdpl ini.

Saya tanya sana-sini dan pendekatan dengan orang lain agar bisa mencari tumpangan dan rekan pendakian, hingga akhirnya bertemu tiga orang yang berniat mendaki esok hari. (naskah dan foto: Geraldine Fakhmi Akbar/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)