ADEK BERRY; Dibawa Keliling Dunia oleh Kamera

adek-berry-Edinburgh-photo-by-Khaterine-HaddonTertarik dengan fotografi sejak sekolah (SMP/SMA). Kesenangan Adek Berry, seorang photo journalist, pada fotografi makin tebal saat kuliah. Adek yang intens memilih kegiatan cinta alam mulai menyalurkan hobi memotret. Saat kuliah itulah, Adek punya pengalaman tak terlupakan karena mendapatkan hadiah kamera SLR Yashica FX-3 dari seorang jurnalis.

Sifat kamera SLR yang menuntut penggunanya tahu persis teknik fotografi, membuat Adek jadi gemar mengasah ketrampilan fotografi. Dengan learning by doing dan trial and error, skill fotografi Adek pun berkembang. Untuk mengasahnya, Adek  bergabung dengan sesama penggemar fotografi di Jember, Holcyon Photography Club, yang dibina wartawan Surabaya Post, alm Dewanto Nusantoro. Tentang dunia fotografi khususnya photo journalism yang digelutinya, PADMagz banyak berbincang dengan perempuan satu ini.

Apa arti fotografi untuk Anda?

Fotografi bagi adalah sarana pengembangan diri. Di mana kita bisa ekplorasi dan mengekspresikan rasa seni sekaligus menyampaikan pesan. Selain sebagai pelengkap jalan-jalan, memotret seolah-olah membawa pulang tempat-tempat yang dikunjungi sekaligus membekukan sejarah, artinya kita menciptakan dokumen penting berupa gambar sebagai simpanan sejarah.

Apa yang paling menarik sebagai photo journalist?
Itu terasa saat saya bekerja di kantor berita (wire service). Pekerjaannya sangat menantang. Banyak sekali hal yang harus dipelajari, baik jurnalistik, foto jurnalistik maupun hal-hal yang menunjang pekerjaan. Standar kerja di wire service sangat tinggi, kompetitif dengan tuntutan deadline yang sangat ketat. Ragam katagori foto yang sangat luas memungkinkan seorang photo journalist untuk ekplorasi dan menghasilkan beragam karya baik news maupun feature.

Adakah plus minus perempuan fotografer?
Fotografi memang tidak memiliki gender. Baik laki-laki maupun perempuan bisa bekerja di bidang ini dan berkarya secara maksimal. Komitmen dan disiplin yang tinggi serta usaha yang gigih sebagai kuncinyadek-berry-and-Katherine-Haddon-AFP-Multimedia-Londona. Plusnya perempuan menjadi pemotret adalah seringkali terbantu dengan liputan yang hanya perempuan yang dapat memotret.

Misalnya saat momen sensitif seperti perempuan muslim yang hanya ‘nyaman’ dengan keberadaan perempuan, bukan lawan jenisnya. Minusnya kadang, polisi atau pihak keamanan ada juga yang menghalangi dan menginginkan perempuan tidak berada di tengah-tengah chaos, bila sedang terjadi bentrok antara demonstran dan pihak keamanan.

Tapi terlepas dari masalah itu, menjadi perempuan pemotret sungguh asyik dan menyenangkan. Perempuan sering diuntungkan oleh kesabarannya melobi, telaten, tabah dengan tekanan serta tidak cepat terpancing emosi. Pasalnya, dalam fotografi jurnalistik, tuntutan dan deadline yang ketat sering membuat photo journalist mudah terpancing emosi, akibatnya mood terganggu sehingga tidak optimal bekerja.

Ceritakan pengalaman berkesan Anda saat memotret.
Waduh banyak. Yang pasti, jika harus memotret sesuatu yang berseberangan dengan kondisi kita. Saya pernah tegang saat meliput suasana pasca ledakan bom di sebuah pasar di Tentena, Poso Sulawesi Tengah yang menewaskan 11 orang. Juga ketika ditugasi meliput kerusuhan di Ambon, di mana saya yang seorang muslim dan memakai atribut Islam, harus turun ke wilayah permukiman Kristen.

Saat meliput referendum di Timor-timur, sebagai orang Indonesia saya bisa merasakan mixed feeling masyarakat yang menginginkan Timor Timur lepas dari Indonesia dan menentukan nasib sendiri. Memotret peristiwa bencana alam juga tergolong cukup menantang. Sulitnya transportasi dan kondisi untuk mencapai lokasi, keadaan serba minim termasuk soal listrik, air bersih, tempat tinggal dan lain-lain menuntut jurnalis bisa cepat menyesuaikan diri dan terus bekerja dalam keterbatasan sarana.

Itu di dalam negeri, kalau pengalaman berkesan memotret di luar negeri?

Saya pernah bertugas di Afghanistan tiga kali. Ada yang tak terlupakan olehnya saat penugasan di Kabul. Hanya beberapa hari sejak ditugaskan di sana, suatu sore saya dan seorang reporter AFP yang masih stand by di kantor dikejutkan oleh suara ledakan yang sumbernya diperkirakan tak jauh dari kantor AFP yang bertetangga juga dengan kantor kedutaan AS.

BaAdek-Berry-in-Edinburgh-Britainu mesiu tercium sangat tajam meski tidak ada cendawan asap sisa ledakan bom. Rupanya telah terjadi serangan bom bunuh diri terhadap mantan presiden Afghanistan, Burhanuddin Rabbani. Pelakunya, tamu utusan Taliban yang meledakkan diri ketika sang tuan rumah (Rabbani) menyambutnya dengan pelukan hangat.

Bagaimana dengan pengalaman lucu, ada?

Ada. Itu kala Megawati Sukarnoputri pertama kali menginjakkan kaki di istana setelah dilantik sebagai presiden. Para jurnalis foto dan kamerawan sudah siap berdiri menyambut di seberang pintu. Momen itu tentunya hanya sekilas, karena mobil yang membawa Bu Mega berhenti hanya sekitar satu meter dari tangga. Bu Mega keluar dan melangkah menuju tangga.

Para wartawan foto dan kameramen memanggil, tapi Bu Mega hanya menoleh sekilas. Eh tak dinyana beliau kemudian malah berjalan ke arah saya seraya berkata; “Kamu punya janji memberi foto pada saya, ya? Mana?” Hahaha, saya sendiri kaget. Rupanya ingat saja Si Ibu sama saya di antara banyaknya fotografer.

Sebagai ibu, bagamana Anda menyeimbangan antara profesi dan keluarga?
Saya berusaha senantiasa dekat dengan keluarga, suami dan anak-anak. Meski pekerjaan banyak dan acara yang padat, anak-anak dan keluarga tetap prioritas. Peran orang tua sangat diperlukan dalam pendidikannya. Meski hal yang kecil, sekedar memeriksa PR, tugas atau ulangan/ujiannya, sebagai ibu, saya terlibat aktif. Berkeluarga itu seperti sebuah tim, semua ambil bagian dan saling dukung untuk kesuksesan bersama.

Sudah menuai ‘buah’ apa saja dari memotret?
Kamera-kameralah yang mengajak saya berkarya dengan berkeliling Indonesia. Kameralah yang membawa saya menginjak Eropa dan mengenal lebih dekat budaya masyarakat Eropa, Asia Selatan, Asia Barat Daya, Asia Tenggara dan kota-kota serta pelosok Indonesia yang luar biasa cantik. Kamera-kamera telah membuat saya memberikan pesan/cerita dari apa yang diliput dan menceritakannya secara luas ke dunia. Kamera juga yang membawa saya mengenal dan dikenal dunia.

Ada rencana ‘menggantungkamera nggak?
Belum terpikir. Tapi kalau pada suatu saat mungkin peralatan fotografi menjadi terlalu berat, badan terlalu capek, atau pikiran yang terlalu lelah, saya dih ada berencana akan mundur dari pekerjaan sebagai jurnalis foto. Tapi bukan berarti gantung kamera. saya tidak terbayang bisa meninggalkan sama sekali dunia fotografi. Sebab sudah belasan tahun, hampir setiap hari eyes, mind, heart, knowledge and SNAP bekerja bersama-sama. Bahkan dalam mimpi! Saya ini sering sekali lho bermimpi tengah memotret, hahaha.

Apa tips dari Anda sebagai photo journalist?

Meski sudah puluhan tahun aktif dalam fotografi dan foto jurnalistik, memotret itu tetap tidak mudah lho. Antara mata (eyes), pikiran (mind), hati (heart), wawasan (knowledge) dan jari (click/snap) harus nyambung dan sejalan. Fotografer memiliki jiwa pengamat, subjek yang tertangkap oleh mata dengan cepat diolah oleh mind and heart, ditambah wawasan (memasukkan elemen background atau gesture) dan SNAP! Jadilah sebuah gambar berkarakter yang membawa pesan fotografer.

Berikan pesan Anda untuk pembaca PADMagz.com ya.
Buat para traveler, kenali diri sendiri, kenali budaya sendiri. Cinta dan rasa memiliki akan timbul, demikian juga keinginan untuk memeliharanya. Kita harus bersyukur dan memandang positif apa yang kita punya, negara dengan sumber daya alam melimpah dan indah. Penting bagi kita memberi warning diri sendiri, kita perlu menjaga lingkungan dan membantu meningkatkan daya dukung lingkungan itu sendiri. Kalau semua orang melakukan hal tersebut asal lebih mendasar pembangunan manusianya, negara kita akan cepat maju dan sangat bersaing. (naskah/PAD/foto: koleksi pribadi/hpy)