Ternyata Ada Surga di Banyuwangi

Kalimat ‘Ada Surga di Banyuwangi’, yang menjadi judul tulisan ini adalah ungkapan dalam hati saya ketika diajak CEO Padma Tour Organizer Wina Bojonegoro menjelajahi Banyuwangi. Perjalanan kali ini sungguh berbeda dibandingkan ketika pertama kali saya datang ke Banyuwangi pada 2006. Sebab saat itu saya tidak menemukan hal yang sama sekali menarik dari kota tersebut. Sangkaan saya jika trip ini bakalan membosankan, sempat mampir di hati saya.

Namun sepertinya saya kena kutukan dan harus menarik kembali ucapan tersebut. Karena ternyata Banyuwangi menyimpan banyak potensi wisata yang luaaaaaar biasa menarik. Seperti misalnya Pantai Plengkung dan Red Island yang terkenal sebagai salah satu tempat surfing terbaik di dunia. Ada tempat yang membuat saya takjub bernama Teluk Ijo karena airnya bueeeening poool.  Belum terhitung Sukamade, tempat penangkaran penyu, Bedul dan masih banyak lagi. Intinya jika Anda ingin berlibur ke Banyuwangi, waktu 7 hari tidak akan cukup untuk menjelajahi keindahan pesonanya. Anda harus berlibur sebulan penuh, agar bisa puas menikmati Banyuwangi.

Ada banyak hal yang menjadi kenangan selama saya menjelajahi sebagian tempat wisata di Banyuwangi. Tergokil ketika saya kehabisan logistik saat hendak menuju Pantai Plengkung. Kebetulan, satu-satunya warung yang ada di dalam hutan Alas Purwo tutup. Sehingga seharian kami hanya makan semangka. Beruntung ada petugas posko yang berbaik hati memberikan kita tiga bungkus mie instan dan kopi sachet. Tapi itupun nggak bisa langsung dimasak, karena menunggu kiriman gas dari kota. Jadi kudu sabar menunggu, hahaha.

Lalu kehabisan stok baju kering di Sukamade. Saat itu mobil yang kami tumpangi tidak bisa menyeberang sungai, karena airnya meluap. Alhasil untuk menghemat tenaga, beberapa stok pakaian bersih kita tinggal di mobil dan kita pun jalan menyusuri hutan menuju Sukamade. Malam harinya kami melihat proses penyu bertelur, sialnya ketika pulang hujan turun dengan deras hingga kami pun basah kuyup. Sebagai ganti pakaian yang basah, saya menggunakan selimut tidur sebagai celana. Untungnya saya membawa cadangan satu baju batik padahal ngapain pula ke hutan bawa baju batik, hahaha. Satu-satunya yang mengobati semua ‘luka’ itu adalah makanannya yang super dupper enaaaaaak. Inilah yang bikin saya betah dan sukses bikin berat badan tambah beberapa kilogram.

Tak cukup rasanya hanya sekali mengalami itu semua. Untungnya untuk menuju ke Banyuwangi sekarang sudah sangat mudah. Anda bisa menggunakan transportasi seperti mobil, bus, kereta maupun kapal laut. Apalagi Banyuwangi sekarang sudah memiliki bandara yang terletak di Desa Blimbingsari-Rogojampi. Yang menarik, di setiap tahunnya, Banyuwangi senantiasa rutin menggelar berbagai macam festival berskala nasional dan internasional antara lain yaitu Festival Kuwung, Banyuwangi Jazz Festival, Banyuwangi Ethno Carnival, International Banyuwangi Tour de Ijen, dan sebagainya. Dengan begitu banyak potensi wisata di sana, tulisan ini menjadi permintaan maaf saya yang telah memandang Banyuwangi dengan sebelah mata hehehe. Sekarang, Banyuwangi telah mencuri hatiku. (pad/hpy)