Ada Cinta di Senja Mae Khong

Mentari dalam perjalanan pulang ke peraduannya. Semburat warna cerah berangsur memudar di langit biru seiring langkah kaki menyusuri tepian sungai Mae Khong, sedikit menjauh dari kerumunan para remaja lokal.

Ya, terbersit niat mereguk secuil keteduhan di antara keramaian kota kecil Viantiane, Ibu Kota Laos. Bukannya apa, sebentar lagi di sepanjang pinggiran sungai yang melintasi 7 negara ini akan dipenuhi hiruk pikuk.Mae Khong River (3)

Maklum, ini spot pasar malam yang senantiasa ramai pengunjung. Baru sekejap menekuri ayunan kaki, seruan heboh sekelompok orang mampir ke telinga saya. Dekat sekali, membuat gerakan refleks menoleh.

Olala, rupanya sebuah perahu sarat turis melintas. Yang membuat mereka tertawa geli di sela teriakan kompak mereka adalah karena perahu yang dikayuh tak sanggup mengejar perahu satunya.

Salah ambil jalur nampaknya, jadinya perahu mengarah ke bagian sungai yang dangkal. Debit volume Sungai Mae Khong memang sedang tak terlampau banyak saat itu. Saya pun memilih berbalik ke tempat semula.

Saya menolak halus ajakan beberapa orang yang mengajak bermain bersama. Itu lho, permainan melemparkan sejenis mainan karet yang kemudian disambut ‘tendangan’ melalui paha, lengan ataupun pundak pemain lainnya.Mae Khong River (1)

Saya pilih mengabadikan saja. Senang melihat turis bule, orang lokal dan turis Asia larut dalam permainan mengasyikkan ini. Pandangan pun beralih ke seorang wisatawan yang menepikan sepedanya dan menatap ke langit dalam diam.

Ia seakan tengah meresapi momen bergantinya cahaya matahari ke terang bulan tanpa terusik kesibukan di sekitarnya. Pantang kalah, saya mengambil posisi yang memungkinkan merenung barang satu dua menit sebelum hari gelap. Duh, romantisnya senja hari ini!

Saya baru tersadar dari lamunan kala satu persatu orang di sebelah saya beranjak. Saat itu pula saya layangkan pandangan dan terkejut. Wooow, betapa suasana telah amat berbeda dibandingkan sekian puluh menit lalu. Sekeliling saya telah dipenuhi banyak tenda warna-warni.

Mae Khong River (2)Rata-rata menjual aneka tanda mata khas Laos seperti tshirt, celana pendek, pernak-pernik unik yang siap tebar pesona. Satu yang paling menarik perhatian saya, yaitu sebuah tshirt putih bertuliskan: I Love Lao Because Someone in Lao Loves Me. Hmmmm, seperti mendapat cinta saja.

Pada sebuah lapak, terlihat anak-anak kecil belajar membuat kerajinan tangan dibimbing seorang wanita setempat. Saya abaikan tawaran sejumlah pembuat sketsa wajah yang berderet menawarkan jasa.

Ada yang lebih mengundang selera. Apalagi kalau bukan area di mana aneka kue basah dan berbagai makanan lokal dijajakan. Keberadaan lampion berbagai bentuk dan warna menyemarakkan suasana. Saatnya memuaskan selera makan dan mempraktikkan kelihaian menego harga! (naskah dan foto: Lucy Liestiyo/editor: Heti Palestina Yunani)