Ketiduran di Bibir Pantai Gili Trawangan

Selalu ada yang berkesan saat ber-solo traveling. Seperti ketika saya melakukannya ke Gili Trawangan. Tujuannya sih supaya berhemat, karena harus handle group meeting ke Senggigi. Ceritanya saya berangkat duluan ke Lombok tapi naik kapal dari Bali ke Gili-Trawangan, selain sekedar refreshing juga buat survey rute sepeda buat para tamu. Hari itu saya menginap di Hotel Villa Ombak, pas di bibir Pantai Gili Trawangan.

Setelah mandi sore dan istirahat sejenak, saya mencari makan ke resto milik hotel yang romantis habis di tepi pantai. Nah pas saya makan itu, di sebelah (masih milik hotel) ada arena nobar (nonton bareng). Pakai layar tancap, penonton lesehan di kursi empuk nan santai. Film pertama yang diputar adalah ‘Eat Pray and Love’. Berhubung sudah main sekitar 30 menit, maka saya berniat nonton film kedua, lupa judulnya.

Katanya sih film konyol, Hangover kalau ndak salah. Maka dengan tenang saya makan menu spesial malam itu. Ikan masak apa ya? Pokoknya ada sambal matah, pedas-pedas gimanaaa gitu, yang saya santap sendirian. Ngobrol dong sama pelayan resto, sambil tanya-tanya apakah penonton selalu bule? Katanya 90 persen memang bule. Tak apa, pede aja, sekaligus nge-tes apakah saya bisa hidup tenang menjadi orang asing di negeri sendiri.

Singkat cerita, makanan tandas, perut kenyang, dan geser ke sebelah. Dengan membayar Rp 50 ribu saya memilih kursi paling nyaman, berupa sofa besar warna merah yang seperti kasur. Enak banget. Setelah penonton menyerahkan semua tiketnya pada petugas, diputarlah film kedua malam itu. Angin semilir dari laut menambah suasana romantis dan syahdu. Beberapa pasangan berpelukan mesra.

Jelas itu membuat dada ini tegelitik untuk melirik, eh melirik doang sih, wong saya sendirian. Sekitar 30 menit, angin semilir itu sukses melenakan saya. Hingga film yang diputar itu tidak menarik banget, menguaplah bertubi-tubi. Tiba-tiba mak lessssss, saya lupa sedang ada di mana. Beberapa saat kemudian, sebuah tangan membelai-belai tangan saya (rasanya begitu). Saat membuka mata, ternyata itu petugas nobar yang tadi ngobrol dengan saya.

“Bu, maaf, filmnya sudah selesai. Silakan masuk kamar,” katanya. Hoasyemmmmmmm ternyata saya ketiduran di tengah film lucu. Beginilah, risikonya traveling sendirian. Gak ada yang diajak gokil-gokilan, nggak ada temen ngobrol buat saling hasut. Walhasil, bayar Rp 50 ribu akhirnya buat nina bobo doang. Ya sutralah, pindah ke kamar sambil sempoyongan akut. Nasibbbbbb!!! (naskah dan foto: Wina Bojonegoro/hpy)