Berpakaian Adat Lengkap Demi Tipaiyakng

Nyobeng: Tradisi Suku Dayak Bidayuh (2)

balugTradisi Nyobeng yang digelar Suku Dayak Bidayuh di Dusun Hliebo, Desa Sebujit, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat benar-benar menarik perhatian saya. Saking menariknya, tubuh lelah saya bisa mendadak tersentak lagi saat sayup-sayup terdengar paduapm atau lantunan mantra dan sibakng dipukul berkali-kali.

Tidak ada waktu lagi untuk tidur,  langkah kaki saya mantap menapak menuju Balug, rumah adat, yang hanya berjarak 300 meter dari rumah tumpangan. Saya menembus udara dingin dan menaiki tangga  seukuran satu pijakan setinggi 16 meter.pak-amin-sang-kepala-suku

Saat mendongak ke atas dan nampak sepasang patung kayu di beranda, menyambut. Saya melongok ke dalam. Terlihat Pak Amin, sang kepala adat, berdiri tegap dengan penuh kharisma. Senyum ramahnya membuat saya tenang. Saya menikmati paduapm sembari terpekur. Beberapa alunan nada membuat saya merinding.

Awalnya saya sudah menggenggam kamera untuk mengambil gambar. Namun urung karena takut menganggu konsentrasi. Saat paduapm sebagai pembuka adat, sang kepala adat sejatinya sedang mengundang semua roh nenek moyang atau Tipaiyakng untuk hadir dan merestui Nyobeng.

Matahari mulai menunjukkan pesonanya. Hujan tadi malam membuat warnanya sedikit pudar. Persiapan penyambutan tamu akan segera dimulai. Warga kampung mulai dari anak-anak sampai dewasa tanpa memperdulikan gender mulai berdatangan mempersiapkan diri lengkap dengan pakaian adatnya.

wanita-sebujitPenanda acara dimulai adalah gema sibankng sebanyak 7 kali, memanggil seluruh warga untuk naik ke atas baluq. Anak-anak, remaja, orang tua, pria dan wanita semuanya menggunakan pakaian adat lengkap. Pakaian ini sudah mengalami perubahan dari aslinya, kini wanita menggunakan baju seperti kebaya sementara dulunya tidak menggunakan atasan.

Istri dan anak kepala adatBagian bawah menggunakan kain dominasi 3 warna, kuning, biru dan putih serta topi tinggi menjulang seperti topi timur tengah. Aksesoris kain semacam selendang tersangkut di pundak ditambah kalung manik-manik. Para pria menggunakan selembar kain merah panjang yang dililitkan membentuk cawat, dahulunya menggunakan kulit kayu.

Sejenis kain bermotif juga dililitkan di kepala, diikat mirip dengan ikat kepala dari Nias. Tidak lupa aksesoris seperti ikat lengan, kalung dari gigi dan tulang hewan, ikat pinggang dari perak serta Mandau (sejenis pedang panjang khas suku dayak) terselip di pinggang.

Kepala adat yang memimpin upacara pembukaan memukul sibakng dikuti dengan permainan tetabuhan lain seperti aguakng dan tawak yang tergantung di dinding, gutakng yang berukuran lebih kecil, serta sanakng yang juga hampir mirip dengan tawak namun ukurannya lebih besar.

Di sebelah kiri Sibakng biasanya digantungkan juga Kabukng yang mirip dengan gendang. Saat semuanya dimainkan maka yang lain akan menari berputar mengitari perapian di bagian tengah balug atau disebut simaniamas.tarian-menyambut-tamu-didepan-pintu-masuk-kampung

Hentakan kaki dan gerakan jari tegas berulang-ulang dilakukan terus-menerus selama musik masih dimainkan. Tarian simaniamas sendiri sebenarnya tarian penyambut para pejuang setelah kembali mengayau serta sebagai tarian persahabatan.

Teriakan keras kepala suku diikuti seluruh prajurit membuat saya tersentak. Suara sibakng, mantra dan tarian kembali terdengar mistis. Kepala adat mengurapi minyak jimat ke semua orang kemudian darah ayam diolesi ke dahi yang berguna sebagai teropong, ke pipi agar teriakan menjadi lantang dan jalan menjadi baik.

tariu-penyambut-tamuIa mengoleskannya ke dada sebagai bentuk permohonan ampun katas segala kesalahan dan menjadi pintar serta punggung sebagai penangkis dari berbagai ilmu santet atau pulung. Beras kuning dibagikan untuk upacara penyambutan tamu nanti.

Saat acara ini berlangsung ada  beberapa kali tembakan senapan laras panjang tradisional atau lantak. Ritual di balug berakhir saat kepala adat turun. (naskah dan foto: Dony Prayudi/editor: Heti Palestina Yunani)