Saling Menggoda di Malam Begendang

Mari Kemari Singgah ke Miri (4)

kelupis-siap-masuk-kedalam-tongDi acara Makan Tahun Suku Kedayan, Sarawak di Pintas Tiris Bekenu, siapapun yang datang ke kampung ini harus makan. Jadi, saya tidak boleh menolaknya. Meja makan pun penuh makanan, beberapa penduduk kampung dan pejabat kampung ikut makan bersama saya, termasuk ditemani Pak Jalil, kepala kampung. Beruntung sekali saya, dianggap orang penting.

menu-makan-tahun Makanan tersedia dengan menu beragam, ada kelupis, kari ayam, tumis lemidin (pakis), sayur umbut kelapa sawit, ulam raja (lalapan sayuran), sambal terasi serta ditemani dengan segelas teh hangat. Entah mengapa makanan kampung ini begitu lezat. Beberapa kali saya harus menambah kelupis.

pak-jalil-kepala-kampungSambil bercucuran keringat mulut saya tidak berhenti mengunyah. Bagian penutup masih ada kue cucur. Wajik, panyaram dan kembang goyang sebagai penutup. Kenyang sudah pasti. Setelah berbincang sejenak, Paul mengajak saya untuk pulang.

Sebagai buah tangan saya mendapat dua renteng kelupis untuk dibawa pulang. Saya berjanji datang kembali pada malam hari untuk melihat acara Begendang pukul 21.00. Benar juga saya kembali hanya untuk Begendang atau Bemukun.

Tradisi terkait Makan Tahun itu biasanya dimulai pukul 21.00. Saya sampai saat acara dimulai. Kursi-kursi plastik dan meja berisi makanan sudah tersusun rapi di sekitar pentas kampung yang sudah dihias siang sebelumnya oleh ibu-ibu, saat memasak persiapan Makan Tahun.

ibu-ibu-begendangSeperti Makan Tahun, acara ini juga unik dan hanya ada di Suku Kedayan Sarawak. Pukulan gendang dan rebana bertalu-talu seperti sedang musik kasidah. Ada dua kelompok utama. Pertama para wanita dengan gendang, duduk  selonjoran di atas panggung berjejer rapi.

Sedangkan kelompok ke dua adalah pria yang berada di depan panggung menari maju mundur. Kedua kelompok ini saling berbalas pantun cecara bergantian. Masing-masing kelompok biasanya terdiri dari 8-10 orang yang saling melempar pantun dengan nada mengalun.

Aksi itu diiringi bunyi gendang dengan pengeras suara sehingga terdengar di seluruh kampung. Mengingat Pontianak menggunakan Bahasa Melayu yang sedikit mirip dengan Bahasa Melayu Malaysia, sehingga tidak terlalu sulit untuk saya mengerti. Pantun lucu dengan rima dan kata-kata berkait, acara itu marak. Ada yang berisi menggoda, menolak sampai ajakan menikah jadi satu dalam pantun.bapak-bapak-menari-dan-berpantun

Tidak jarang menimbulkan gelak tawa yang menonton. Semakin malam maka sekitar panggung akan penuh penonton. Biasanya akan ada pergantian kelompok dalam beberapa waktu. Tua muda semuanya berkumpul menikmati hiburan tradisional langka satu tahun sekali ini. Uniknya lagi remaja kampung ini akan menjemput remaja dari kampung lain sehingga semakin malam semakin ramai.

Perhelatan akbar ini bisa berlanjut hingga azan subuh berkumandang. Sayangnya saya harus kembali pukul 20.30 malam karena masih ada agenda lain. Tapi saya sduah bisa menyaksikan dan melihat bagaimana sebuah tradisi buaya tetap hadir dan diminati tua muda serta tak lekang di makan zaman.

kembali-kekampung-sebelahDengan tradisi-tradisi itu, kampung Pintas Tiris Bekenu mampu menjaga kearifan budaya dan melanjutkan hingga anak cucu. Setelah asyik melihat aksi masak dalam kuali raksasa saya di ajak kepala kampung untuk berkeliling beberapa lokasi.

Saya lihat jembatan kampung yang melintasi sungai, ruangan temu warga sampai kantor desa serta beberapa pohon tua yang lengkap dengan namanya dan kapan pohon ini ditanam. Saya juga sempat diundang untuk melihat pertunjukan permainan gong di sertai dengan tabuhan rebana. Bunyinya berima dengan sungguh riuh. Sungguh asyik. (naskah dan foto: Dony Prayudi/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)