Injak Pelabuhan Sekupang, Mampir Dulu ke Bu Joko

Backpacker-an 7 Hari 7 Pelabuhan; Pelabuhan Sekupang (5)

Dengan menumpang Batam Jet dari Pelabuhan Bandar Sri Laksamana Bengkalis, akhirnya aku sampai di Batam, di Pelabuhan Sekupang. Sekarang dari pelabuhan itu aku di wilayah kota yang bebas bea pajak. Batam boleh dibilang adalah kota terbesar di lingkar Provinsi Kepulauan Riau selain Tanjung Pinang dan Balai Karimun.

pelabuhan-sekupangDua kota tersebut menjadi tujuanku berikutnya, setelah mendarat lewat Pelabuhan Sekupang. Dari sana, kita harus ke area kota sekitar 20 menit. Transportasi menuju Batam kota bisa ditempuh dengan taksi, ojek, angkot dan Trans Batam. Untuk yang terakhir moda bus ini dibilang tidak maksimal. Agaknya perlu promosi dari pihak pemkot setempat agar moda ini efektif.

Aku juga sempatkan ke Nagoya. Nagoya adalah kawasan bisnis di jantung Kota Batam. Selain menjadi destinasi belanja, Nagoya juga dikenal sebagai tujuan turis asing asal Singapura atau Malaysia yang mencari wisata prostitusi yang murah meriah.

Di Nagoya memang tersebar hotel, mall, tempat kuliner dan lainnya. Nagoya menjadi titik rekomendasi wisata untuk melihat Kota Batam sebenarnya. Di Nagoya, rujukanku mampir ke Hotel Instar di Kompleks Bumi Indah Blok 4/33-35. Lumayan juga rekomendasi dari seorang teman ini.

Sebab harga per kamar masih terjangkaulah untuk backpacker sepertiku, yaitu cuma Rp 180 ribu. Fasilitasnya lumayan mulai wifi, AC dan TV. Fasilitas ini sangat lumayan karena boleh dibilang biaya hidup di Batam tinggi. Jadi kalau aku dapat hotel yang cukup murah untuk semalam, aku beruntung.pelabuhan-sekupang1-rumah-makan-bu-joko-batam

Setelah meletakkan tas backpacker-ku yang kumal, aku berkeliling melihat Kota Batam. Karena lapar aku segera mencari makan. Nah tempat makanku juga rekomendasi teman. Ternyata tempat makan itu tidak bisa dilewatkan yaitu Ruman Makan Sunda Bu Joko.

Tempatnya di Nagoya Square JPK blok D75/76. Di sini dikenal murah. Model penyajiannya secara prasmanan jadi bisa memilih lauk sesuai lidah kita atau selera. Kalau jam makan siang, tempat ini full atau ramai orang.

Jika tak cukup di lantai satu, rumah makan ini menyediakan tempat di lantai dua. Pendeknya, rumah makan ini bisa jadi alternatif  kuliner hemat. Ingat kan Batam termasuk high cost untuk urusan perut. Setelah kenyang dan puas jelajah Kota Batam dengan jalan kaki, aku kembali ke hotel. Sebab besok pagi berikutnya aku akan menuju Tanjungpinang dan Tanjung Balai Karimun. (naskah dan foto: Ferry Fansuri/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)