Menyapa Pantai di Hari Terakhir

Sisi Lain Yogyakarta Pascaerupsi Kelud (4)

eruspi-15Perjalanan di siang menjelang sore ini saya lanjutkan ke Kalasan. Bukan, bukan Prambanan yang menjadi tujuan kali ini. Kraton Ratu Boko, tepatnya. Kompleks situs arkeologi ini terletak di atas bukit, tiga kilomenter selatan Prambanan. Sayang, hari ini seharian gerimis betah membasahi Yogya sehingga membuat sang mentari memilih untuk berselimut awan. Enggan menunjukkan kegarangannya.

Namun kondisi alam yang sedang redup tidak membuat kompleks Kraton Ratu Boko kehilangan keanggunannya. Justru mendung memperkuat legenda yang memayunginya. Konon, Ratu Boko adalah Ayah dari Loro Jonggrang, putri cantik yang menjadi patung ke seribu akibat amukan Bandung Bondowoso yang tidak dapat memenuhi permintaan sang putri membuat seribu candi dalam semalam. Tapi itu adalah legenda.

Kompleks apakah sebenarnya Ratu Boko ini pun secara arkeologis masih menjadi misteri. Apakah biara, apakah kompleks keraton, apakah tempat rekreasi? Sambil mengagumi kompleks candi ini, sampailah saya ke paseban, yang bisa diartikan sebagai ruang tunggu bagi para tamu sebelum bertemu dengan sang ratu. Namun ternyata kekecewaan tidak dapat saya hindarkan saat petugas keamanan dengan ramah menyampaikan bahwa saya tidak dapat meneruskan eksplorasi di senja itu karena lokasi keraton Ratu Boko ditutup pasca erupsi Kelud.

erupsi-17Proses pembersihan belum selesai, sehingga  lokasi ini masih harus disterilkan. Baiklah, ini adalah satu pertanda bahwa suatu saat saya akan kembali lagi ke Kraton Ratu Boko saat mendung tak lagi menggelayut. Sayang hari ini terakhir di Yogya. Tidak ada lagi waktu tersisa untuk disia-siakan. Saya ingin mengeksplorasi pantai selatan di kawasan Wonosari. Seharusnya matahari bersinar cerah, namun hari ini mendung masih enggan meninggalkan Yogyakarta.

Perjalanan Yogya-Wonosari yang harus ditempuh dua jam membuat saya harus bergegas check out seusai salat subuh. Mood belum terlalu bagus membayangkan pantai beratapkan awan kelabu, tapi agenda ini sudah masuk dalam daftar yang tidak bisa digantikan. Tujuan pertama adalah Pantai Baron. Yang menarik perhatian saat datang ke pantai ini adalah waktu yang bersamaan dengan para nelayan berangkat melaut.erupsi-18

Bergotong-royong mereka mengangkat perahu ke air hingga motor dinyalakan. Beruntung saya masih sempat melihat aktivitas nelayan di pagi itu. Pantai yang menjadi pilihan saya selain Baron adalah Kukup, Sepanjang, Drini, Krakal, dan Sundak. Hanya Baron yang pasirnya hitam, sisanya berpasir putih meski karakter pasirnya juga agak berbeda. Ada yang pantai putihnya lembut dan tebal seperti di Drini, Krakal, dan Sundak.

Ada juga yang pasir putihnya sedikit tajam karena bercampur pecahan kerang seperti di Sepanjang, atau pantai yang dominan karang berlumut seperti Kukup. Setelah menikmati penyusuran pantai selatan sejak pagi, saya langsung kembali ke Yogya karena harus ke Pasar Beringharjo mengambil aneka oleh-oleh yang sudah dipesan kemarin.erupsi-16

Setelah itu mampir ke tempat pijat di Gandekan Lor yang tidak jauh dari Malioboro karena perjalanan ini membuat otot-otot ini perlu direlaksasi. Usai pijat, saya melihat ada sebuah toko yang menjual t-shirt couple dengan tulisan dan gambar khas Yogya.

Lengkaplah oleh-oleh untuk orang-orang terkasih di rumah. Lengkaplah sudah perjalanan kali ini. Yogya tetap berseri meski abu vulkanik sempat menyelimuti. Itu yang membuat saya selalu ingin kembali. (naskah dan foto: Didi Cahya/editor: Heti Palestina Yunani)