10 Fotografer-Penulis Pertemukan Literasi dalam “SATU”

Peter Wina-foto Ambar W“Pengakuan” Wina Bojonegoro ditulis di atas sofa. Apakah itu? Ya, “Pengakuan” adalah judul dari puisi Wina untuk merespon foto karya Peter Wang. Antara Wina-Peter memang ada kerjasama. Kali ini dalam Pameran Fotografi dan Puisi bertajuk SATU, yang digelar di Hpuse of Sampoerna Art Gallery sejak 11 Agustus. Dalam SATU, tak hanya Peter-Wina yang berkolaborasi melainkan ada empat pasangan lain yang juga berprofesi sebagai fotografer dan penulis.

Karya Vika dan Fabiola-foto fabiolaMereka adalah Leo Arief Budiman dan Heti Palestina, B.G. Fabiola Natasha dan Vika Wisnu, Haryo Suryo Kusumo dan Didik Siswantono, serta Mamuk Ismuntoro dan Sol Amrida.  Pembukaan pameran dilangsungkan semalam (Kamis, 10 Agustus) secara sederhana. Lima penulis yaitu Wina, Didik, Heti, Vika dan Sol, membacakan secuplik puisi masing-masing yang dibuat medley seolah menjadi satu puisi. Selain mereka, ada dua pembaca puisi yaitu Elysius dan Vivin sebelum opening ceremony dilakukan Perry Angglishartono dari Jamu Iboe.

Untuk menyaksikan karya SATU yang digelar hingga 2 September, pengunjung akan disuguhi karya fotografi-puisi dari masing-masing pasangan. Di lantai dua, suara Wina membacakan puisi berjudul “Untuk Yos” dalam rekaman audio terdengar serak-serak basah. Lain Peter-Wina lain pula Leo-Heti. Keduanya menyatukan foto dan puisi dalam empat tampilan. Seperti puisi “Jiwa” karya Heti divisualisasikan bersama dalam cetakan foto di atas kain.

Haryo-Didik-foto Nur BadriyahPuisi “Maafkan Alam” terpisah dalam cetakan foto di atas kanvas dan Heti yang menulis di atas buku folio bergarios ukuran A4. Sementara Fabiola-Vika menarik pengunjung dalam bentuk manekin untuk puisi “Ziarah”, dan menyatu bersama di atas papan kayu yang dilukis oleh Fabiola. Mamuk dan Sol memilih sederhana dalam suasana ruang kerja fotografer-penulis. Keduanya memasang mesin ketik yang menghasilkan ketikan di atas kertas buram bersanding dengan foto Mamuk yang dipigura kecil. Mirip suasana di sebuah meja kerja.

Peter-Wina-foto Ambar WSementara Haryo-Didik menggantung keempat fotonya secara bolak-balik antara foto dan puisi. Dalam pameran SATU ini, kelima pasangan memang diberikan kebebasan untuk memvisualisasikan karya mereka. Sejak berkarya, setiap pasangan bisa sebebas mungkin saling merespon. Untuk SATU, pemahaman selaras antara bahasa visual dan bahasa teks diserahkan masing-masing yang berpasangan. Prinsipnya yang lima fotografer berkarya foto, yang lima penulis berkarya puisi.

Tak jelas siapa yang merespon siapa. Ada kalanya puisi dihasilkan dari foto atau foto dibuat setelah puisi jadi. Hubungan saling merespon antara mereka ini terjadi sejak 2015. Semula dimaksudkan untuk merealisasikan persahabatan semata dalam satu buku berjudul JOMBLO, Photo-Poem Book. Sederhana saja, dalam buku yang lebih dulu diwujudkan dalam pameran, mereka ingin ditampilkan karya foto yang bisa dilihat dan puisi yang bisa dibaca sebagai suatu hubungan saling merespon. Heti dan Leo-foto Nur B

Intinya bagaimana literasi itu bisa disosialisasikan dalam pemahaman yang tak hanya melek huruf namun juga persoalan melek visual. Pertemuan inilah yang dianggap menarik dan menantang bagi kesepuluh peserta pameran. Mungkin buku atau pameran semacam ini bukan sesuatu yang baru. Namun sebagai wacana baru, kolaborasi foto dan puisi ini mengundang mereka ingin menunjukkan bahwa berkarya bersama antar disiplin ilmu yang berbeda menunjukkan keharmonisan.

Leo-foto Ambar WMenariknya, selama menjalin kerjasama yang intens antara fotografer dan penulis, banyak hal yang terjadi karena masing-masing kesibukan. Maklum latar belakang aktivitas mereka berbeda seperti Peter (pengusaha), Mamuk (dosen/documentary photographer), Eed/Haryo (fotografer), Fabiola (Chinese painter/dosen), Leo (pembatik), Heti (jurnalis/dosen), Vika (dosen), Didik (bankir), Sol (produser film dan musik), serta Wina (novelis/pengusaha travel tour).

Dibantu Eddy Purnomo dari Pana Foto (kurator foto) dan redaktur Media Indonesia Damhuri Muhammad (kurator puisi), SATU dibagi dalam 10 sub tema yaitu Cinta, Kuat, Berlari, Gelora, Kontemplasi, Tulus, Berani, Kenangan, Ramai dan Tumbuh. Sub tema itu menghasilkan 50 foto dan 50 puisi yang dicetak dalam buku yang rencananya akan dilaunching bersama sastrawan ternama Indonesia, Joko Pinurbo pada penutupan pameran 2 September.

Vika Fabiola-foto Nur BKhusus untuk pameran SATU, sepuluh orang ini menunjukkan 30 foto dan 30 puisi dalam beberapa macam bentuk. Bisa jadi penuangan visual ini berbeda dengan publik. Maka, pameran SATU juga menyediakan Pohon Puisi. Ada tiga foto untuk bisa direspon penikmat pameran dengan cara menuliskan puisi di atas kertas yang digantung di Pohon Puisi. Maka secara khusus, SATU yang bentuk lain dari kata manunggal, kumpul, gabung, sepakat, seia sekata, padu, dsb-nya juga dipersembahkan untuk memaknai HUT Kemerdekaan RI ke-72 atau bisa terjemahan dari Bhineka Tunggal Ika.

Menyesuaikan perayaan Proklamasi RI, SATU juga mereferensikan kebhinekaan dalam suku, agama, ras, pendidikan, profesi, dll. Semoga pameran yang ini menjadi pemicu maraknya kegiatan literasi di Kota Surabaya lewat fotografi dan puisi serta memberikan dorongan yang positif bagi persatuan dan kesatuan Indonesia. (naskah dan foto: hpy/Ambar-BG Fabiola-Ika-Nur/editor: Heti Palestina Yunani)